Senin, 05 Maret 2012

Nekton

BAB II
ISI

2.1.   Pengertian Nekton
Nekton adalah kelompok organisme yang tinggal di dalam kolom air, baik di perairan tawar maupun laut. Kata “nekton" diberikan oleh Ernst Haeckel tahun 1890 yang berasal dari kata Yunani (Greek) yang artinya berenang. Ilmunya disebut Nektology. Dan Orang yang mendalami ilmunya disebut Nektologist.
Laut menyimpan begitu banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan lebih lanjut hingga menjadi nilai tambah bagi kehidupan kita. Termasuk hewan-hewan perenang di laut yang sudah lama menjadi perhatian manusia karena nilai ekonominya. Selain itu juga hewan – hewan di laut umumnya kayak akan zat – zat yang baik untuk kesehatan, seperti protein, kalsium, dan berbagai macam mineral lainnya. Kelompok hewan perenang ini kurang beraneka-ragam dibandingkan dengan dua kelompok lain, yakni plankton dan bentos. Nekton adalah hewan-hewan laut yang dapat bergerak sendiri ke sana ke mari seperti ikan bertulang rawan, ikan bertulang sejati, penyu, ular, dan mamalia laut yang kesemuannya termasuk Vertebrata. Sotong dan cumi-cumi yang termasuk Mollusca juga termasuk nekton. Tidak ada tumbuh-tumbuhan yang mampu berenang, jadi tidak ada tumbuhan yang tergolong ke dalam kelompok nekton.
Berbeda dengan plankton, nekton terdiri dari organisme yang mempunyai kemampuan  untuk bergerak sehingga mereka tidak bergantung pada arus laut yang kuat atau gerakan air yang disebabkan oleh angin. Mereka dapat bergerak di dalam air menurut kemauannya sendiri. Salah satu karateristik nekton adalah kemampuannya bergerak dengan cepat atau capability of fast motion. Nekton mempunyai panjang dari beberapa centimeters sampai 30 meter. Jadi dapat disimpulkan bahwa Nekton adalah hewan-hewan laut yang tidak bergantung pada arus laut atau gerakan angin sehingga dapat bergerak sendiri ke sana ke mari secara bebas seperti ikan-ikan laut, reptil laut, mamalia laut, cumi-cumi dan lain-lain.
Nekton umumnya memakan plankton. Nekton merupakan organisme laut yang sangat bermanfaat bagi manusia terutama untuk perbaikan gizi dan peningkatan ekonomi. Tumpukan bangkai nekton merupakan bahan dasar bagi terbentuknya mineral laut seperti gas dan minyak bumi setelah mengalami proses panjang dalam jangka waktu ribuan bahkan jutaan tahun.
            Secara umum Nekton memiliki beberapa sifat sebagai berikut :
·         Organisme yang dapat bergerak atau berenang dengan keinginan sendiri.
·         Organisme konsumer di daerah pelagic.
·          Aktif berenang
·          Umumnya invertebrate, namun vertebrata juga ada seperte pisces dan mamalia laut.
·         Memiliki masa hidup lebih panjang daripada plankton (invertebrata : 1 tahun, ikan : 5 – 10 tahun).
·         Migrasi biasanya berkaitan dengan siklus reproduksi, ikan tuna migrasi dari feeding ground ke breeding ground hingga sejauh ribuan kilometer.

2.2. Klasifikasi Nekton
Nekton di lautan terdiri dari berbagai ikan bertulang belakang seperti cucut dan pari serta sejumlah kecil mamalia seperti reptil dan burung laut. Invertebrata yang dapat digolongkan nekton hanyalah jenis moluska sepalopoda. Beberapa kelompok ikan yang berbeda dijumpai dalam golongan nekton. Pertama, ikan yang menghabiskan seluruh waktunya di daerah epipelagik. Ikan ini disebut holopipelagik mencangkup ikan-ikan hiu tertentu (cucut martil, hiu mackerel, cucut biru), kebanyakan ikan terbang, tuna, setuhuk, cucut gergaji, lemuru, ikan dayung, dan lain-lain. Ikan ini biasanya menghabiskan telur yang mengapung dan larva epipelagik. Jumlahnya sangat berlimpah di permukaan perairan tropik dan subtropik. 
Kelompok kedua ikan bahari dinamakan meroepipelagik. Ikan ini hanya menghabiskan sebagian dari hidupnya di daerah epipelagik. Kelompok ini lebih beragam dan mencakup ikan menghabiskan masa dewasanya di epipelagik tetapi mememijah di perairan pantai (Haring, geger, lintang jinak, dolphin) atau diperairan tawar (salem). Ada juga jenis lain yang memasuki daerah epipelagik hanya pada waktu-waktu tertentu. Seperti ikan-ikan perairan-dalam semacam ikan lentera yang bermigrasi ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan. Kebanyakan ikan menghabiskan awal daur hidupnya di epipelagik , tetapi masa dewasanya di daerah lain. Bentuk juvenil memegang peranan tetap dalam fauna epipelagik, tetapi disebut meroplankton, karena kemampuannya geraknya terbatas. Kelompok terbesar kedua dari nekton bahari adalah mamalia laut.
Mamalia laut nekton mencangkup ikan paus (ordo Cetacea), anjing laut dan singa laut (ordo Pinnipeda). Terdapat juga mamalia bahari lain, seperti manatee dan duyung (ordo Sirenia), serta berang-berang (ordocarnivora). Tetapi hewan-hewan ini tidak pelagik karena mereka menghuni perairan pantai sepanjang waktu. Mereka juga tidak akan dibahas dalam bab ini.
Reptil nekton hampir semuanya merupakan penyu dan ular laut. Iguana bahari terdapat di kepulauan Galapagos, dan buaya air asin mendiami banyak daerah Kepulauan Indo-Pasifik.Tetapi hewan-hewan ini juga merupakan hewan litoral yang hanya sekali-kali pergi menjauhi daratan. Reptil bahari jauh lebih umum dan beragam dibandingkan sekarang. Pada waktu itu, plesiosaurus besar, iktiosaurus, dan mosasaurus menjelajahi lautan-lautan hangat.
Secara teknik, kebanyakan burung-burung laut tidaklah nektonik, karena mereka terbangdi atas laut lepas dan bukan menembusnya. Tetapi mereka juga termasuk dalam ekonomi perairan ini dapat di bahas di sini. Mungkin satu-satunya kelompok burung yang benar-benar nektonik adalah penguin yang tidak dapat terbang dan terdapat di bagian bumi selatan. Tetapi cormorant dan burung laut yang lain, menyelam untuk mencari makan dan menghabiskan banyak waktunya sebagai perenang.

Nekton,  sebagian besar terdiri dari tiga kelas :
  1. Vertebrata, bentuk kontribusi terbesar, hewan-hewan ini juga didukung oleh tulang atau tulang rawan.
Gambar 1. Contoh ikan bertulang rawan
Sumber: afiaja.blogspot.com
  1. Moluska, merupakan hewan seperti cumi-cumi dan kerang.
Gambar 2. Contoh Hewan Molusca
Sumber : mametdiamond.blogspot.com

  1. Crustacea, adalah hewan seperti lobster dan kepiting.
Gambar 3. Lobster
Sumber : deliskun.blogspot.com

Berdasarkan kelompok ikan yang berbeda dijumpai dalam kelompok nekton :
  1. Holoepipelagik
Holoepipelagik merupakan kelompok ikan yang menghabiskan seluruh waktunya di daerah epipelagik (0-200m). Kelompok ikan ini mencakup ikan-ikan hiu tertentu seperti cucut, martil, cucut biru, kebanyakan ikan terbang, tuna, setuhuk, cucut gergaji, lemuru, ikan dayung, dan lain-lain.
Karakteristik umum Nekton Holoepipelagik ini antara lain:
     Perenang yang efektif
     Mampu mendeteksi mangsa dan bernavigasi/migrasi
     Memiliki pewarnaan kriptik (countershading), yaitu permukaan dorsal berwarna gelap dan ventral berwarna terang; keculi ikan-ikan yang ada di terumbu karang.
Gambar 4. Profil Vertikal Daerah Bawah Permukaan Laut
Sumber: google.com
Setiap zona Epipelagic dicirikan oleh T (suhu) dan S (salinitas) yang berkaitan dengan lingkungan sirkulasi laut.

 01.jpg
Gambar 5. Contoh hewan Holoepipelagik
Sumber : vagabondish.com
  1. Meroepilagik
Meroepipelagik merupakan kelompok ikan yang menghabiskan sebagian waktu hidupnya di daerah mesopelagik(200-700/1000m).
Karakteristik umum dari jenis nekton Meroepipelagik ini antara lain:
     Umumnya berukuran < 15cm
     Memiliki gigi/rahang yang termodifikasi
     Bermulut besar
     Memiliki mata yang besar dan peka terhadap cahaya
Gambar 6. Profil Vertikal Daerah Bawah Permukaan Laut
Sumber : google.com

Kondisi lingkungan di daerah ini adalah kurangnya cahaya matahari. umumnya sumber makanan hewan mengandalkan pada produksi primer dari Zona Fotik. Ikan-ikan Mesopelagic jarang mencapai panjang 10 cm, dan banyak yang dilengkapi dengan gigi yang terbentuk baik, mulut besar, mata yang sangat sensitif, dan  photophores.

Meropelagik dapat dibagi lagi berdasarkan pola hidup masing-masing organisme, diantaranya :
v  Organisme yang menghabiskan sebagian waktu hidupnya di daerah epipelagik, kelopmok ini beragam dan mencakup ikan yang menghabiskan masa dewasanya di epipelagik tetapi memijah di daerah pantai. Contohnya : haring, geger lintang jinak, dolpin.
Gambar 7. Ikan herring
Sumber : dnr.state.md.us
v  Organisme yang hanya memasuki daerah epipelagik pada waktu-waktu tertentu, seperti ikan perairan-dalam semacam ikan lentera yang bermigrasi ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan.
Gambar 6. Angler Fish
Sumber : kaskus.us
v  Organisme yang menghabiskan awal daur hidupnya di epipelagik, tetapi masa dewasanya di daerah lain. Contohnya : juvenile.
Gambar 5. Ikan Haring
Sumber : tripadvisor.co.uk

2.3. Keanekaragaman Sumberdaya Hayati Nekton
            Keanekaragaman hayati adalah suatu ukuran untuk mengetahui  keanekaragaman kehidupan yang berhubungan erat dengan jumlah suatu  komunitas (Kottelat at al., 1993). Ekosistem yang baik mempunyai ciri-ciri keanekaragaman jenis yang tinggi dan  penyebaran jenis individu yang hampir merata di setiap perairan. Perairan yang  tercemar pada umumnya kekayaan jenis relatif rendah dan di dominansi oleh jenis  tertentu (Krebs, 1972). Menurut Herteman (2003) mengatakan bahwa keanekaragaman hayati dapat dipilih menjadi 3 kelompok, yaitu:
1.      Keanekaragaman Ekosistem
Keanekaragaman ekosistem berhubungan dengan keanekaragaman habitat dan kesehatan komplek-komplek habitat yang berbeda-beda. Ekosistem perairan dibedakan menjadi ekosistem air laut dan ekosistem air tawar. Ekosistem yang baik mempunyai ciri-ciri keanekaragaman jenis yang tinggi dan  penyebaran jenis individu yang hampir merata di setiap perairan. Perairan yang tercemar pada umumnya kekayaan jenis relatif rendah dan di dominansi oleh jenis tertentu (Krebs, 1972).
2.      Keanekaragaman Spesies
Keanekaragaman spesies adalah konsep variabilitas ikan-ikan yang  hidup di perairan tawar, payau, dan laut, yang kemudian diukur dengan jumlah seluruh spesies. Keanekaragaman spesies terdiri atas dua komponen, yaitu jumlah spesies yang ada (umumnya mengarah ke kekayaan spesies) dan kelimpahan relatif spesies mengarah ke keseragaman (evenness atau equitability). Secara ekologi diasumsikan bahwa keanekaragaman spesies yang tinggi menunjukkan keseimbangan ekosistem yang lebih baik dan memiliki elastisitas terhadap berbagai bencana, seperti penyakit, predator, dan lainnya.  Sebaiknya keanekaragaman yang rendah (jumlah spesies sedikit) menunjukkan sistem yang stress atau sistem yang sedang mengalami kerusakan, misalnya bencana alam, polusi, dan lain-lain.
3.      Keanekaragaman Genetik

2.4. Adaptasi Lingkungan
            Dalam ilmu ekologi, adaptasi berarti suatu proses evolusi yang  menyebabkan organisme mampu hidup lebih baik dibawah kondisi lingkungan tertentu dan sifat genetik yang membuat organisme menjadi lebih mampu untuk bertahan hidup (McNaughton et al., 1973). Dan beberapa kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan diantaranya:
1.      Laut merupakan daerah yang sangat besar
2.      Tidak ada substrat padat, sehingga hewan selalu melayang dalam medium yang transparan
3.      Keadaan tersuspensi nektonik yang kerapatan tubuh lebih besar dari air laut menyebabkan perkembangan adaptasi agar tetap terapung
Berbagai macam adaptasi nekton di laut tentunya setiap spesies akan berbeda tergantung spesies serta factor lingkungannya, berikut merupakan macam - macam adaptasi secara umum:
a.       Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup yang memperlihatkan perubahan bentuk dan struktur tubuh. Ciri adaptasi hewan air :
·         Tubuhnya berbentuk torpedo (stream line), hal ini dimaksudkan untuk meminimumkan hambatan bentuk dan turbulensi.
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRHJ6JK4DBAAmE405y45zgLbgS-5zbXJ27bYtW6C1YYSuyKSkev
Gambar 6. Ikan tuna ekor kuning
Sumber: dimensionsguide.com

·         Pada ikan perenang cepat hampir semua tubuhnya yang biasanya menonjol menjadi tertekan sampai menjadi pipih yang dapat ditinggikan hanya bila dibutuhkan.
Gambar 7. Pengamatan seekor tuna dari tiga sisi memperlihatkanperlunyaadaptasi agar dapat bergerak cepat. (a) dilihat dari depan, (b) dilihat darisamping, (c) dilihat dari atas

·         Untuk mamalia laut, rambut menjadi lebih pendek atau tidak ada, sebab rambut lebih menghambat dari[ada kulit telanjang. Kelenjar susu rata dan alat genital jantan tidak menonjol kecuali jika sedang berfungsi.
·         Permukaan tubuh licin karena berlendir.
·         Anggota gerak tubuh berupa sirip. Hewan nektonik umumnya bergerak maju (berenang) dengan melakukan gerakan mengomabak dari tubuh atau sirip.
Gambar 8. Mekanisme renang pada ikan
·          Anjing laut bertelinga berenang dengan menggunakan sirip depannya sebagai dayung, sedangkan anjing laut tidak bertelinga menggunakan kaki belakang yang berselaput renang merentang secara vertikal seperti sirip ekor ganda pada ikan.
·         Ikan pari dan ikan mola-mola melakukan pergerakan mengombak pada sirip sebagai tenaga penggerak. Sedangkan tenaga penggerak pada vertebrata bahari yang bernapas di udara adalah dengan bergerak mendayung, baik yang dilakukan oleh tungkai depan, belakang atau keduanya.
Gambar 9. Ikan yang menggunakan sirip yang mengombak sebagai dayapenggerak. (a) ikan mola-mola, (b) ikan manta

·         Pada ikan terbang dengan sirip yang besar dapat lolos dari predatordenga cara mendorong dirinya keluar dari air dan meluncur dengan siripseperti sayap.

b.      Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungan sekitarnya yang memperhatikan perubahan sistem metabolisme dalam tubuhnya. Ciri adaptasi hewan air :
·         Dinding sel ikan laut lebih tebal dibandingkan dinding sel ikan tawar.
·         Ikan air laut banyak meminum air dan mengeluarkan sedikit urine dalam menyesuaikan tekanan osmosis, sedangkan pada ikan air tawar mengeluarkan banyak urine dan meminum sedikit air.
·         Kemampuan melayang dan bergerak dengan kecepatan tinggi dalam air. Kebanyakan ikan dapat mengatur jumlah gas dalam gelembung renangnya dan mengubah tingkat apungnya. Mamalia bahari, berang-berang, dan anjing laut menggunakan udara yang terperangkap pada lapisan bawah rambutnya yang lebat sebagai daya apung. Cumi-cumi mengatur daya apung netral dengan mengganti ion kimia berat dalam cairan tubuh dengan yang lebih ringan. Mekanisme lain untuk meningkatkan daya apung adalah dengan menyimpan lipida di dalam tubuh.
Gambar 10. Adaptasi daya apung ikan

c.       Adaptasi Tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya dengan cara memperlihatkan tingkah laku. Ciri adaptasi hewan air :
·         Pengeluaran tinta pada cumi-cumi untuk penyelamatan diri.
Gambar 11. Cumi-cumi
Sumber : biologigonz.blogspot.com

·         Munculnya ikan paus ke permukaan air untuk menghirup O2 setiap 30 menit sekali.
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTBMQmbwFARkdLO0Si0QsN070LQK6ye9sekx_9ZJTPUMsqxFZr5
Gambar 12. Ikan paus
Sumber : smart-pustaka.blogspot.com
·         Migrasi pada ikan salmon untuk melakukan reproduksi di daerah air tawar.

d.      Adaptasi Reproduksi
Reproduksi merupakan kemampuan individu menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenis atau kelompoknya.Meskipun tidak semua individu mampu menghasilkan keturunan, namun setidaknya reproduksi berlangsung pada sebagian besar individu yang hidup di permukaan bumi ini.
Secara umum ikan dapat dibedakan atas dua jenis yaitu jantan dan betina (biseksual/dioecious) dimana sepanjang hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama. Istilah lain untuk keadaan ini disebut gonokhoristik yang terdiri atas dua kelompok yaitu :
·         Kelompok yang tidak berdiferensiasi, artinya pada waktu juvenil, jaringan gonad belum dapat diidentifikasi apakah berkelamin jantan atau betina.
·         Kelompok yang berdiferensiasi, artinya sejak juvenil sudah tampak jenis kelaminnya apakah jantan atau betina.
Selain gonokhoristik, dikenal pula istilah hermafrodit yang artinya di dalam tubuh individu ditemukan dua jenis gonad (jantan dan betina).Bila kedua jenis gonad ini berkembang secara serentak dan mampu berfungsi, keduanya dapat matang bersamaan atau bergantian maka jenis hermafrodit ini disebut hermafrodit sinkroni.Contoh ikan yang bersifat seperti ini adalah Serranus cabrilla, Serranus subligerius dan Hepatus hepatus. Ikan yang termasuk golongan ini adalah Sparrus auratus dan Pagellus centrodontus. Bila pada awalnya berkelamin jantan namun semakin tua akan berubah kelamin menjadi betina maka disebut sebagai hermafrodit protandri. Sedangkan hermafrodit protogini adalah istilah untuk individu yang pada awalnya berkelamin betina, namun semakin tua akan berubah menjadi kelamin jantan seperti dijumpai pada ikan belut.
Perbedaan seksualitas pada ikan dapat dilihat dari ciri-ciri seksualnya.Ciri seksual pada ikan terbagi atas ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat/organ yang berhubungan dengan proses reproduksi secara langsung. Ciri tersebut meliputi testes dan salurannya pada ikan jantan serta ovarium dan salurannya pada ikan betina.Ciri seksual primer sering memerlukan pembedahan untuk melihat perbedaannya.Hal ini membuat ciri seksual sekunder lebih berguna dalam membedakan jantan dan betina meskipun kadangkala juga tidak memberikan hasil yang nyata.
                 Pada ikan-ikan epipelagik, tidak ada mekanisme khusus yang akan memisahkannya dari sesama jenisnya yang bentik atau yang hidup di perairan dangkal. Tetapi ikan-ikan bertulang keras holonektonik seperti tuna dan marlin memijahkan telur yang terapung dan mengalami perkembangan di perairan laut terbuka yang bersifat planktonik. Akibatnya ikan-ikan menghasilkan telur dalam jumlah yang sangat banyak untuk mengimbangi jumlah yang hilang akibat dimangsa predator. Lain halnya dengan hiu pelagik. Ikan-ikan ini menghasilkan beberapa telur atau embrio. Parin (1970) menyatakan bahwa cucut martil menghasilkan dua embrio sedangkan cucut biru lebih dari lima puluh empat. Jelas kalau bibit ini harus melewati perkembangannya sebagai plankton, kesempatannya untuk menghindari pemangsaan sangat kecil. Jadi hiu ini memperbesar kesempatan hidup bagi keturunannya dengan menahan telur dalam tubuh betina lebih lama sehingga ketika lahir atau menetas, ukurannya lebih besar dan lebih tahan terhadap predator yang potensial.
Tingkah laku reproduksi pada banyak hewan, termasuk ikan merupakan suatu siklus yang dapat dikatakan berkala dan teratur. Kegiatan reproduksi pada beberapa jenis ikan hanya terjadi sekali dalam hidupnya (big-bang spawner). Termasuk dalam golongan ini adalah ikan salmon (onchorhyncus), lamprey laut (Petromyzon marinus) dan sidat (Anguilla).





Minggu, 20 November 2011

Erupsi Gunung Kelud

                Gunung berapi merupakan tonjolan yang memiliki ketinggian tertentu di permukaan bumi yang memiliki saluran larva yang berasal dari perut bumi, yang ketika sudah saatnya meletus yang diakibatkan daya dorong dari gas yang menekan, akan mengeluarkan material-material bumi. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Indonesia terlewati oleh Ring of Fire, yang menyatakan bahwa di Indonesia terdapat banyak gunung berapi yang masih aktif. Salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia tepatnya di Jawa Timur yaitu Gunung Kelud. Gunung Kelud merupakan gunugn api strato andesitik yang masih aktif, dengan adanya laporan bahwa sepanjang abad 20 ini gunung Kelud telah meletus sebanyak 5 kali, yaitu pada tahun 1901, 1919, 1915, 1966 dan 1990. Terakhir, gunung ini meletus pada tahun 2007, tetapi letusannya tidak terlalu besar. Letusan yang terhebat yang terjadi di gunung kelud terjadi pada tahun 1919 yang memakan korban hingga 5000 jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk. Dilihat dari tahun kejadian meletusnya gunung kelud, para ahli gunung api menyatakan bahwa pola ini merupakan siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.   

Gambar 1. Gunung Kelud
Sumber : dinamik.ukm.ums.ac.id

Gambar 2. Gunung Kelud saat meletus

Hasil penelitian yang didasarkan pada kejadian letusan pada tahun 1919, memberikan penjelasan bahwa tipe dan produk letusan Gunung Kelud bertipe St. Vincent dengan jenis erupsi eksplosif, yaitu erupsi yang terjadi ketika magma yang keluar ke permukaan bumi secara meletus atau letusan. Ciri-ciri dari tipe letusan St. Vincent yaitu lava yang dihasilkan agak kental, tekanan gas sedang, dan kawahnya memiliki danau. Ciri-ciri ini sama seperti yang terjadi di Gunung Kelud. Pad tahun 1919 ini letusan yang terjadi di Gunung Kelud mengelurkan asap letusan dengan ketinggian hingga mencapai lebih dari 10 km. Proses erupsi selalu diawali oleh letusan uap (freatik) yang basah dan lembab. Kemudian berkembang menjadi letusan freato-magmatik yang disertai surge hingga letusan magmatik yang menghasilkan pasir, batu apung, lapili dan abu, yang terjadi dalam waktu relatif singkat (kurang dari 10 jam). Setiap letusannya selalu diakhiri dengan pembentukan sumbat lava pada lubang kepundannya. Lahar letusan tidak terjadi pada letusan tahun 1990, karena isi (volume) danau kawah pada saat  terjadi letusan tidak lebih dari 2,5 juta m3. Hal ini terjadi berkat usaha pengendalian isi danau kawah dengan pembuatan terowongan yang dibangun pada tahun 1920, dan mengalami perbaikan setiap kali setelah terjadi letusan gunung api ini. Terowongan pengendali volume danau kawah ini hingga saat ini berfungsi dengan baik.

Gambar 3. Danau Kawah Gunung Kelud
Sumber : dinamik.ukm.ums.ac.id

                Letusan gunung kelud merupakan suatu gejala alam yang menakutkan dan sangatlah berbahaya bagi semua mahluk hidup yang berada dilereng gunung tersebut bahkan bagi mahluk hidup yang berada beberapa puluh kilo meter dari gunung tersebut. Letusan gunung berapi dapat menyapu pada radius 20 km disekitarnya, sedangkan abu yang dikelurkan dapat terbang hingga ratusan kilo meter searah tiupan angin. Letusan gunung berapi yang dapat mengancam kehidupan dari material yang dikeluarkannya antara lain :
·         Lava
Lava adalah batuan cair karena suhu yang sangat tinggi (sekitar 1.200 0C) dan mengalir melalui lereng dan dapat mencapai jarak beberapa kilometer dari kawah gunung. Semua benda yang dilalui aliran lava ini dapat hancur, dan aliran lava ini sendiri juga dapat menimbulkan awan panas disertai gas beracun yang mematikan.
·         Bom gunung api
Bom gunung api adalah material padat atau semi padat dan panas yang berdiameter antara 10 hingga 300 cm yang terlontar ketika gunung berapi meletus dan dapat mencapai jarak 10 km. Benda yang tertimpa bom gunung berapi ini dapat hancur dan terbakar, sering kali dapat menimbulkan kebakaran hutan jika bom gunung berapi ini jatuh di hutan.
·         Pasir
Pasir adalah lemparan material dari letusan gunung berapi yang lebih kecil dari bom gunung berapi. Ukurannya sekitar 3 mm dan dapat menghancurkan atap rumah karena ketika material ini turun seperti hujan sehingga atap rumah tidak mampu menahan beban dari pasir tersebut. Apabila jatuh di hutan, pasir ini juga dapat merusak dan merontokkan daun pepohonan.
·         Abu gunung berapi dan gas beracun.
 Abu merupakan lemparan material yang paling halus dari letusan gunung berapi dan pada umumnya suhunya tidak panas. Abu gunung berapi ini dapat terbang terbawa angin beberapa ratus kilo meter dari pusat letusan gunung dan dapat mengganggu penerbangan pesawat, juga berbahaya bagi pernafasan manusia. Sedangkan gas beracun dengan kadar yang terlampau tinggi yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi juga dapat mematikan mahluk hidup disekitar lereng gunung tersebut.
                Dengan mengesampingkan bahaya dari letusannya, sebenarnya gunung berapi juga memberi manfaat yang banyak bagi manusia, diantaranya yaitu :
·         Lahan-lahan pertanian disekitar gunung kelud dapat menjadi semakin subur akibat abu vulkanik dari letusan gunung tersebut
·         Areal disekitar gunung berapi juga memberikan pemandangan yang menakjubkan sebagai tempat berwisata
·         Sebagai daerah tangkapan hujan
·         Sebagai sumber mata air
·         Selain itu juga dapat dijadikan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi

Sumber :

Kamis, 27 Oktober 2011

Osmoregulasi Hewan Aquatik

Berdasarkan bentuk kehidupan, habitat dan kebiasaaan hidupnya maka organisme air dapat di kelompokkan sebagai berikut:
1.       Plankton
Plankton merupakan organisme air yang hidupnya melayang-layang dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh gerakan air. Mereka hidup terbatas di lapisan perairan laut beberapa ratus meter dari permukaan laut.
2.       Benthos
Bentos adalah organisme yang hidup pada substrat dasar perairan. Bentos mencakup biota menempel, merayap dan meliang di dasar laut. Kelompok biota ini hidup di dasar perairan mulai dari garis pasut sampai dasar abisal. Contoh biota menempel ialah spons, teritip dan tiram; biota merayap, kepiting dan udang karang; dan biota meliang, jenis kerang tertentu dan cacing.
3.       Nekton
Nekton yang merupakan kelompok organisme air yang mampu bergerak bebas, yang tinggal di dalam kolom air baik di perairan tawar maupun laut. Kata “nekton” diberikan oleh Ernst Haeckel tahun 1890 yang berasal dari kata Yunani (Greek) yang artinya berenang (“the swimming”) yang meliputi (biofluidynamics, biomechanics, functional morphology of fluid locomotion, locomotor physiology). Contoh hewan nekton adalah ikan yang merupakan organmisme air yang bernapas dengan insang dan dapat bergerak atau berenang dengan menggunakan sirip.
4.       Pleuston
Pleuston merupakan keseluruhan organisme yang melayang di permukaan air. organisme yang hidup di laut, sebagian tubuhnya mencul di permukaan air. Mereka kadang dipisahkan sebagai plankton karena distribusinya lebih banyak disebabkan oleh angin dari pada arus seperti misalnya Eichhornia, Pistia, Physalia dan Velella (hydrozoa).
5.       Neuston
Neuston merupakan keseluruhan kelompok mikroorganisme yang hidup pada permukaan suatu perairan, pada kedalaman sampai 10 pada lapisan permukaan air. Seperti misalnya Epineuston yang hidup pada permukaan dan terkena langsung udara bebas.
6.       Pagon
Pagon merupakan keseluruhan organisme air yang mampu hidup dalam kondisi perairan yang membeku. Termasuk kedalam jenis ini antara lain berbagai jenis plankton Protozoa, Rotatoria dan insekta terutama yang terdapat di daerah yang bermusim empat iklim.

Osmoregulasi adalah proses adaptasi atau upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dan lingkunganya (suatu proses pengaturan tekanan osomose). Hal ini penting dilakukan terutama oleh organisme perairan, khususnya ikan, karena:
1.       Harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan
2.       Membran sel yang merupakan tempat lewatnya beberapa substansi yang bergerak cepat
3.       Adanya perbedaan tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan
Jenis-jenis ikan terhadap osmoregulasi:
a.       Teleostei Patadrom
Teleostei patadrom merupakan ikan yang hidup di perairan tawar. Memiliki sifat hiperostomik, yaitu pengaturan aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media. Hal ini menyebabkan air bergerak masuk ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungannya dengan cara difusi. Untuk menjaga keseimbangan cairan tubuhnya, teleostei potadrom berosmoregulasi dengan cara meminum sedikit atau tidak minum sama sekali. Sedangkan untuk mengurangi kelebihan air dalam tubuh, ikan tersebut memproduksi banyak sekali urin. Sedangkan ginjal dan insang tetap mengambil garam secara aktif.
b.       Teleostei Oseanodrom
Termasuk ikan yang hidup di laut. Memiliki sifat hipotonik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media. Sehingga secara alami cairan tubuhnya akan mengalir dari dalam tubuh teleostei oseanodrom ke lingkungannya secara osmose melewati ginjal, insang mungkin juga kulit. Untuk mempertahankan konsentrasi ion-ion total dalam plasma sekitar sepertiga dari konsentrasi ion air laut maka hewan jenis ini memperbanyak minum air dan mengurangi volume urin (10 ml/ 100 g/jam).
c.       Teleostei Diadrom
Termasuk ikan yang hidup bermigrasi di perairan asin dan tawar (estuarine). Bersifat isotonik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media. Sehingga pada saat hewan ini berada di air tawar maka akan melakukan osmoregulasi seperti potadrom, sedangkan bila berada di laut akan berosmoregulasi seperti oseanodrom. ikan eurihalin, konsentrasi cairan tubuhnya hampir sama dengan lingkungannya, sehingga hanya sedikit melakukan osmoregulasi. Pengaturan kehilangan garam dan air pada diadrom melalui transpor aktif.




Sumber:


Selasa, 27 September 2011

Sejarah Perkembangan Deterjen

Deterjen merupakan salah satu produk pembersih yang banyak dimanfaatkan pada kegiatan pembersihan untuk laundry, alat-alat rumah tangga, transportasi, kegiatan komersial dan industri metal. Deterjen pertama kali dikembangkan oleh Jerman pada waktu Perang Dunia II dengan tujuan agar lemak dan minyak dapat digunakan dalam keperluan lainnya. Pada tahun 1916 lahir inovasi baru yang dilakukan ilmuwan Jerman, Fritz Gunther, yang menemukan surfaktan sebagai bahan tambahan pembuat sabun. Namun, baru tahun 1933 detergen untuk rumah tangga untuk pertama kalinya diluncurkan di AS. Kelebihan detergen mampu lebih efektif membersihkan kotoran meski dalam air yang mengandung mineral. Pada tahun 1950-an dibuatlah detergen dengan pemutih oksigen. Kemudian di era 1960-an, sabun pencuci bahkan sudah memiliki enzim yang memungkinkan pakaian direndamsebelum dicuci. Lalu pada era 1970-an, sabun pencuci yang dipadukan dengan bahan pelembut kain mulai dikenal luas. Inovasi sabun pencuci terus berkembang di era 1980-an seiring perkembangan mesin pencuci. Berdasarkan kebutuhan mesin pencuci, industri berhasil menciptakan konsentrat bubuk untuk mencuci pakaian. Sedang di era 1990-an, industri juga kembali menghadirkan sabun pencuci baru berupa cairan yang mampu bekerja dua kali lipat lebih efektif saat mencuci pakaian.
Sebelum tahun 1965, detergen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) ysng mampu menghasilkan busa. Dikarenakan sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme dipermukaan tanah, menghasilkan limbah busa di sungai dan danau. Setelah 10 tahun dilakukan penelitian (1965), ditemukan Linear Alkalybenzene Sulphonate (LAS) yang lebih ramah lingkungan. Bakteri dapat lebih cepat menguraikan molekul LAS, sehingga tidak menghasilkan limbah busa. LAS saat ini banyak digunakan sebagai surfaktan anionik yang sangat komersial. Akan tetapi, walaupun surfaktan LAS dapat dibiodegradasi oleh lingkungan, sifat bidegradablenya membutuhkan waktu yang lama untuk menguraikan. Oleh karena itu, pada saat ini telah mulai diperkenalkan Metil Ester Sulfonat (MES). Dimana MES lebih mudah terdegradasi dibandingkan LAS. Menurut Matheson (1996), MES menunjukkan karakteristik yang baik, diantaranya mudah terdegradasi dan memiliki sifat detergensi yang baik terutama pada air dengan tingkat kesadahan yang tinggi.
Pada umumnya kotoran nyang dapat dihilangkan surfaktan adalah yang berasal dari debu atau tanah. Bila kotoran lebih berat seperti noda makanan dan noda perlu ditambahkan enzim protease. Pemakaian enzim merupakan revolusi terbesar dalam perkembangan deterjen. Enzim proteolitik telah dicoba sebagai zat aditif untuk mencuci di Jerman pada tahun 1920-an dan juga di Switzerland pada tahun 1930-an. Enzim yang disebut juga dengan katalis organik, cenderung untuk mempercepat reaksi dan enzim proteolitik dapat mengubah ataupun menghancurkan protein menjadi asam amino, baik sebagian maupun keseluruhan. Cara kerja enzim relatif lambat dan harga produksinya tinggi, tetapi dengan metode yang telah disempurnakan untuk produksi lain dan pemurnian, rantai enzim, dikembangkan untuk bereaksi dengan cepat. Pemanfaatan enzim ini mulai diproduksi dalam skala industri pada tahun 1960-an (Winarno, 1986). Menurut Ward (1983) dalam industri protease digunakan untuk membersihkan kotoran yang berasal dari protein. Penggunaan protease dapat mengurangi konsentrasi fosfat dalam deterjen dan menurunkan suhu air untuk mencuci pakaian, sehingga dapat menghemat energi dan mengurangi pencemaran lingkungan.  Dalam perkembangannya, deterjen pun makin canggih. Deterjen masa kini biasanya mengandung pemutih, pencerah warna, bahkan antiredeposisi (NaCMC atau sodium carboxymethylcellulose).

Sumber:
http://majarimagazine.com