Jumat, 28 September 2012

Keberadaan Ikan Duyung


                Akhir-akhir ini ikan duyung atau sering disebut juga dengan dugong kurang banyak diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu kita akan sedikit membicarakan mengenai hewan yang satu ini. Ikan duyung ini merupakan salah satu hewan mamalia yang sepanjang hidupnya tinggal di perairan laut yang dapat hidup hingga umur 20 tahun. Ikan duyung bergerak dengan menggunakan ekor fluked yang mereka miliki dan flippers yang berada di depan.  Seperti halnya ikan paus yang muncul sesekali ke permukaan untuk bernafas, ikan duyung pun sesekali ke permukaan untuk mengambil udara. Ikan duyung hanya hidup di perairan tropis di seluruh dunia dengan arus dan ombak yang tidak terlalu kuat.  

Gambar. Ikan Duyung

Klasifikasi dari dugong adalah sebagai berikut :
    Kingdom          : Animalia
    Phylum            : Chordata
    Class                  : Mammalia
    Order                : Sirenia
    Family              : Dugongidae
    Genus               : Dugong
    Species            : Dugong dugon

Salah satu penyebab kurang diketahuinya keberadaan mamalia ini mungkin dikarenakan menurunnya populasi ikan duyung. Di Indonesia sendiri dari hasil yang dilaporkan pada tahun 1994 populasi ikan duyung menurun hingga hanya sekitar 1000 ekor dibandingkan data sebelumnya yang dilaporkan pada tahun 1970 yang mana hingga mencapai 10.000 ekor. Dan ada kemungkinan untuk saat ini yang merupakan tahun 2012, kemungkinan angka 1000 ekor menjadi tidak valid lagi, malah mungkin berkurang jauh. Penyebaran ikan duyung di Indonesia biasanya berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, perairan Papua, dan sebagian kecil Sumatera, Jawa dan Bali. Konservasi mengenai ikan duyung ini juga masih belum dapat diupayakan secara maksimal dikarenakan masih jarangnya penelitian yang dilakukan mengenai ekologi mamalia satu ini, selain itu juga karena jarangnya ditemukan secara langsung habitat dari mamalia ini.
                Ikan duyung biasanya ditemukan di daerah padang lamun yang merupakan makanan pokok mereka. Dengan hanya memakan lamun, ikan duyung dapat tumbuh hingga sepanjang 3 m dengan berat hingga mencapai 500 kg. Lamun yang mereka konsumsi hanya lamun-lamun jenis tertentu, seperti Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp. Dan penyebaran lamun ini pun terbatas, sehingga untuk melakukan konservasi terhadap ikan duyung secara tidak langsung juga harus dilakukan konservasi terhadap lamun. Selain kurang adanya literatur mengenai ekologi dan biologi dari ikan duyung sebagai hambatan pembentukan konservasi ikan duyung, tetapi juga dikarenakan hilangnya habita mereka di kawasan padang lamun yang banyak dirubah menjadi kawasan tambak ikan.  Dan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap keberadaan ikan ini yang masih kurang menyebabkan keberadaan ikan ini ikut menghilang. 

Sumber:
http://maruf.wordpress.com/category/dugong-indonesia-konservasi-yang-jalan-di-tempat/
http://australian-animals.net/dugong.htm
http://lautkita.blogspot.com/2011/06/sekilas-tentang-dugong-dugon.html
http://www.ilmukelautan.com/biologi-kelautan/hewan-laut/432-dugong
http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Dari-Kamu/Tanya-Nesi/Lain-lain/Puteri-Duyung/(offset)/5


Rabu, 26 September 2012

Akustik Laut


  Pengertian Shadow zone
Shadow zone merupakan wilayah atau daerah dimana suara tidak dapat merambat di sini. Mengapa dapat terjadi seperti itu? Hal ini dapat dijelaskan dengan mengingat lapisan yang ada di kolom air laut. Kolom air laut dibagi menjadi tiga lapisan, lapisan pertama yaitu lapisan tercampur (Mix layer). Lapisan ini merupakan lapisan homogen dimana suhunya konstan, walaupun demikian kecepatan suara pada lapisan ini bertambah terhadap kedalaman karena adanya pengaruh dari pertambahan tekanan. Lapisan yang kedua yaitu lapisan termoklin, dimana terjadi penurunan suhu yang cepat yang lebih mendiominasi dibandingkan pertambahan tekanan sehingga kecepatan suara pada lapisan ini berkurang terhadap kedalaman. Dan lapisan yang ketiga yaitu lapisan laut dalam (Deep Water). Pada lapisan ini peningkatan tekanan lebih dominan dan terjadi penurunan suhu sehingga kecepatan suara kembali meningkat terhadap kedalaman.
 Sehingga dapat dijelaskan bahwa pada lapisan termoklin terjadi penurunan suhu yang drastis sehingga menyebabkan terbentuknya dua medium akibat adanya perbedaan suhu atau sering disebut sebagai lapisan C minimum. Adanya bidang batas antara dua medium ini menyebabkan terjadinya refraksi gelombang suara. Selain itu jugaapabila terjadi kenaikan suhu air laut sebesar 1oC akan menyebabkan peningkatan kecepatan suara sebesar 1 m/dt. Oleh karena itu apabila suhu meningkat berdasarkan kedalamn maka gelombang suara yang dipancarkan akan cenderung dibelokkan ke arah permukaan air laut. Begitupula bila terjadi penurunan suhu berdasarkan kedalaman maka gelombnag suara yang dipancarkan akan cenderung dibelokkan ke arah bawah atau dasar laut. Akibat adanya pembelokan suara inilah terbentuk wilayah yang tidak terlewati atau terambati oleh gelombang suara, yang saat ini kita kenal dengan shadow zone.
Gambar. Pembentukan shadow zone

Sumber :
http://manwhoridethelight.multiply.com/journal/item/23/DISKUSI-shadow-zone-persembunyian-kapal-selam-?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/51099/C11mis.pdf?sequence=1

 Refraksi gelombang suara
Menurut hukum Snellius mengenai pembiasan :
1.       Sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang datar
2.       Sinar yang datang dari medium dengamn indeks bias kecil ke medium dengan indeks bias yang lebih besar akan dibiaskan mendekati garis normal, dan sebaliknya.
3.       Perbandingan nilai sinus sudut datang (sin i) terhadap sinus sudut bias (sin r) dari satu medium ke medium lainnya selalu tetap.
Dengan kata lain apabila terdapat gelombang yang melewati bidang batas antara dua medium, maka sebagian gelombang akan dipantulkan dan sebagian lagi akan diteruskan atau dibiaskan. Oleh karena itu gelombang yang dibiaskan akan mengalami pembelokan arah dari arah semula bergantung pada mediumnya.

Gambar. Refraksi gelombang
Sumber : blog.uad.ac.id


Sumber :
http://www.fisika-ceria.com/pembiasan-refraksi.html

Minggu, 27 Mei 2012

Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Oseanografi Fisika






Disusun oleh
Desta Tansya H (230210100028)







logo unpad.jpg










PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2012

ABSTRAK

            Tsunami adalah suatu gelombang pasang air laut yang dapat disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat atau terjadi di bawah permukaan laut dengan disertai naiknya permukaan air laut dan gelombang air. Selain disebabkan oleh gempa bumi, tsunami juga dapat ditimbulkan karena adanya longsoran lempeng bawah laut, aktivitas vulkanik dan tumbukan benda luar angkasa. Di Indonesia sendiri kejadian tsunami sudah sering terjadi dan selalu memakan korban yang tidak sedikit. Oleh karena itu untuk meminimalisasi jumlah korban yang meninggal ataupun hilang sebaiknya dilakukan mitigasi bencana alam. Salah satu yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan sistem peringatan dini tsunami. Walaupun sistem ini tidak efektif pada kejadian tsunami yang datang secara tiba-tiba setidaknya apabila pusat bencana agak jauh dari dataran pesisir, pihak berwenang dapat melakukan peringatan agar masyarakat pesisir dapat melakukan evakuasi. Sistem ini terdiri dari sistem sensor, buoy dan pemantau, yang kemudian datanya akan di integrasi dengan sistem tide gauge dan GPS untuk memperoleh konfirmasi yang akurat mengenai pembentukan tsunami. Setelah data telah dipastikan maka pihak berwenang seperti BMKG akan menyampaikannya ke pemerintah dan media untuk disampaikan kepada masyarakat.

BAB I
PENDAHULUAN
Tsunami merupakan salah satu bencana yang sedikitnya menyebabkan trauma bagi mereka yang mengalaminya langsung. Bencana tsunami terbesar di Indonesia terjadi 8 tahun yang lalu yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam. Dan sampai saat ini menjadi trauma tersendiri bagi masyarakat di Aceh, terutama bagi anak-anak. Walaupun bukan bencana tsunami pertama tetapi karena besarnya gelombang yang menghantam daratan dan banyaknya korban yang meninggal maupun hilang mengakibatkan tsunami Aceh menjadi legenda tersendiri. Tsunami yang terjadi di Naggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi akibat tergesernya jalur sesar di bawah laut yang menyebabkan gempa berkekuatan sekitar MW 9.1 – 9.3 pada kedalaman 30 km di bawah muka rata-rata di pantai barat Sumatera. Gempa ini tidak hanya menimbulkan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, tetapi juga menimbulkan tsunami yang merusak pantai-pantai di India, Sri Langka, Thailand, bahkan juga sampai menimbulkan korban tewas di pantai timur dan selatan Afrika. Jumlah korban tewas pada kejadian ini untuk seluruh dunia lebih dari 275.000 jiwa, dan angka ini belum termasuk ribuan korban yang hilang.
Sebelum di Indonesia sebenarnya tsunami sudah sering terjadi di negara lain. Seperti yang terjadi di Alaska pada tahun 1964. Tsunami di Alaska ini mengakibatkan tewasnya 107 orang. Selain di Alaska tsunami juga sering melanda Hawaii. Pada tahun 1960 gelombang tsunami setinggi 11 meter melanda pulau ini dan merenggut 61 jiwa. Pada tahun 1976 gelombang tsunami menerjang negara Filipina di wilayah Teluk Moro dan menewaskan lebih dari 5 ribu jiwa. Pantai utara Papua Nugini pun tidak lepas dari terjangan gelombangan tsunami hingga menyebabkan 2 ribu orang tewa pada tahun 1998. Dengan selalu banyaknya korban yang bergelimpangan akibat bencana ini maka perlu perhatian khusus dalam penanggulangan bencana tsunami. Baik berupa mitigasi bencana maupun pembuatan sistem peringatan dini untuk bencana tsunami.
           

BAB II
ISI
Sebelum membahas lebih jauh mengenai tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam dan beberapa negara rawan tsunami seperti contohnya Jepang, ada baiknya kita mengetahui pengertian dari bencana tsunami itu sendiri. Tsunami sebenarnya berasal dari bahasa Jepang (, tsunami) dimana tsu berarti pelabuhan dan nami berarti gelombang, sehingga pengertiannya menjadi gelombang besar di pelabuhan. Berasal dari bahasa Jepang karena di Jepang inilah sering terjadi gempa-gempa yang menimbulkan tsunami baik besar maupun kecil. Tsunami merupakan suatu gelombang pasang air laut yang terjadi akibat gempa bumi yang berpusat atau terjadi di bawah permukaan laut dengan disertai naiknya permukaan air laut dan gelombang air. Gelombang air ini dapat menghantam daratan atau pesisir dengan kecepatan yang setara dengan pesawat terbang yaitu bisa mencapai 500 – 1000 km per jam. Dan setelah menghantam daratan kecepatannya akan berkurang menjadi 30 km per jam. Walaupun setelah mencapai daratan atau pesisir kecepatannya berkurang tetapi ketinggian gelombang akan meningkat, yaitu bisa mencapai 30 m atau lebih dan akan masuk ke daratan sampai beberapa kilometer dari garis pantai. Sebenarnya hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami bukan saja dikarenakan adanya gempa di bawah permukaan laut tetapi juga dapat dikarenakan adanya longsoran lempeng bawah laut, aktivitas vulkanik atau letusan gunung berapi di laut, dan tumbukan benda luar angkasa yang jatuh ke laut. Tetapi memang hampir 90% penyebab tsunami adalah gempa bumi bawah laut.
            Gempa bumi bawah laut biasanya terjadi karena adanya pergeseran atau patahan kerak bumi (sesar). Yang mana di bumi ini memiliki sekitar 20 lempeng atau pecahan kerak bumi yang besar yang memiliki ketebalan sekitar 70 km. Dimana lempeng – lempeng ini akan saling bergerak, ada yang bergerak menjauh (divergent), mendekat (convergent) dan bergeser (transform). Dan suatu mekanisme pergerakan yang menyebabkan pergeseran (yang sering kita sebut sesar atau fault) sering menyebabkan gempa bawah laut yang menimbulkan tsunami. Jenis sesar sebenarnya terbagi menjadi 4 jenis.
1.    Normal (sinking), dimana lempeng samudera pada sesar bergerak turun. Apabila sesar normal terjadi biasanya terjadi penyurutan air laut di pantai pada waktu separuh sebelum terjadinya tsunami. Biasanya pada pantai yang landai air bisa surut sampai 800 meter menjauhi pantai.
Gambar 1. Sesar Sinking

2.    Thrust (raising), dimana lempeng samudera pada sesar bergerak naik. Dan apabila sesar thrust terjadi maka wilayah pantai akan mengalami banjir akibat air pasang sebelum muncul gelombang air yang lebih tinggi atau tsunami.
Gambar 2. Sesar Raising

3.    Transform (mendatar), dimana lempeng samudera pada sesar bergerak mendatar.
4.    Oblique (miring), dimana lempeng samudera pada sesar bergerak miring.
Biasanya proses terjadinya tsunami akibat sesar terjadi karena adanya sentakan tiba-tiba dari pergerakan lempeng karena adanya tekanan yang besar. Sentakan ini membentuk gelombang yang akan menyebar ke sekitar pusat patahan. Untuk gelombang yang menuju daratan akan meninggi karena dasar laut yang dangkal sehingga terjadi penumpukan massa air. Hal ini dikarenakan kecepatan gelombang menurun karena tertahan daratan sehingga puncak dan lembah gelombang menjadi berdekatan sedangkan bagian atas gelombang tidak tertahan atau diperlambat oleh gesekan dan bergerak lebih cepat dari bagian bawah.
Gambar 3. Proses terjadinya tsunami

Ciri-ciri gempa yang dapat menimbulkan tsunami diantaranya yaitu:
1.    Pusat gempa berada di dasar laut dengan kedalaman kurang dari 60 km (perairan dangkal),
2.    Kekuatan gempa lebih besar dari 6,42 Skala Richter,
3.    Terjadinya deformasi vertikal dasar laut atau diakibatkan oleh sesar naik (raising) atau sesar turun (sinking).
Ada beberapa tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai, yaitu: terasanya getaran atau gempa di sekitar pantai, surutnya air laut secara tiba – tiba, tercium bau asin atau amis yang sangat menyengat, dari kejauhan tampak gelombang putih dengan suara gemuruh yang sangat keras, kemungkinan munculnya cahaya kemerahan di sepanjang horizon (aurora) akibat dari perubahan perilaku elektromagnetik bumi akibat getaran gempa,  dan yang terakhir adanya perilaku – perilaku aneh dari binatang – binatang di sekitar lokasi bencana tsunami. Umumnya fenomena – fenomena di atas terjadi beberapa menit sampai beberapa jam sebelum munculnya gelombang tsunami ke pesisir pantai.
            Dengan banyaknya korban – korban yang meninggal maupun hilang akibat bencana khususnya bencana tsunami maka perlu adanya mitigasi bencana alam. Mitigasi merupakan usaha untuk meminimalisasi akibat suatu kondisi berbahaya sebelum suatu bencana tersebut muncul. Mungkin bencana tsunami tidak dapat di cegah tetapi kita dapat mengurangi akibat yang akan ditimbulkan oleh bencana ini dengan mempelajari dan mengetahui kapan bencana ini akan datang dan cara – cara menyelamatkan diri dari bencana ini. Beberapa upaya mitigasi yang dapat kita lakukan bila terjadi bencana tsunami diantaranya yaitu:
1.    Hindari membangun rumah di daerah pesisir pantai
2.    Membuat tembok penahan tsunami di garis pantai yang rawan bencana tsunami
3.    Menjaga kelestarian hutan bakau. Karena keberadaan hutan bakau di daerah pesisir pantai dapat membantu menghadang gelombang tinggi seperti tsunami
4.    Membuat sistem peringatan dini bencana tsunami
5.    Membangun bangunan tinggi bila tidak terdapat bukit atau dataran tinggi di sekitar pesisir pantai untuk tempat evakuasi
6.    Mengidentifikasi dan menginventaris daerah – daerah yang rawan bencana
7.    Simulasi atau latihan bencana
8.    Memberikan sosialisasi mengenai bencana tsunami kepada masyarakat luas khususnya masyarakat pesisir yang daerahnya rawan tsunami
Salah satu upaya mitigasi bencana tsunami yaitu dengan membuat sistem peringatan dini. Sistem ini berfungsi untuk memberitahukan bila akan datangnya suatu bencana. Sistem peringatan dini ini dapat berupa sistem biologi ataupun sistem buatan. Sistem biologis berupa pengamatan terhadap makhluk hidup (hewan) yang secara alamiah memiliki insting untuk melarikan diri karena rasa sakit atau takut akan datangnya suatu bencana. Sedangkan sistem buatan merupakan sistem yang memang khusus dibuat oleh manusia untuk menghimpun data – data terkait dan mengolahnya menjadi parameter kemungkinan akan munculnya suatu bencana. Di Indonesia sendiri sistem peringatan dini tsunami baru dikembangkan dengan bantuan dari beberapa negara. Sistem ini dikenal dengan nama Indonesian Tsunami Early Warning System – InaTEWS yang dikelola oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jakarta. Sistem ini dibuat agar dapat menginformasikan peringatan akan munculnya tsunami dalam rentang waktu paling lama sekitar 5 menit setelah munculnya gempa bumi. Dengan adanya informasi yang cepat dari sistem ini diharapkan dapat memberikan peringatan bagi masyarakat di sekitar bencana dan dapat mengurangi jumlah korban serta kerugian lainnya akibat adanya bencana tsunami ini. Sistem InaTEWS merupakan sistem near real – time telemetry and  command yang didesain untuk aplikasi di bidang ilmu kelautan. Sistem ini terdiri dari sistem sensor, buoy, dan sistem pemantau. Sistem sensor berfungsi untuk mengamati perubahan – perubahan yang terjadi di laut, yang mana apabila terjadi gempa akibat sesar maka peristiwa ini akan ddirim ke buoy dan kemudian dicatat oleh suatu alat pencatat gempa (Seismograf). Setelah pencatatan dilakukan, segala informasi gempa mulai dari kekuatan, waktu dan lokasi terjadinya gempa dikirim melalui satelit ke BMKG Jakarta. Data yang telah diterima oleh pihak BMKG akan diolah dalam DSS untuk mengetahui apakah gempa ini memiliki potensi tsunami atau tidak. Pengolahan dilakukan dengan melakukan perhitungan yang didasari oleh beberapa juta skenario modelling yang telah dibuat sebelumnya. Data ini kemudian akan diintegrasikan dengan data yang berasal dari peralatan sistem peringatan dini lainnya seperti GPS dan Tide Gauge agar dapat memberikan konfirmasi mengenai pembentukan tsunami. Setelah mendapatkan kepastian maka BMKG akan meneruskan informasi ini melalui pihak – pihak berwenang dan media yang akan memberitahukan kepada masyarakat. Penyampaian informasi kepada masyarakat selain melalui televisi juga dapat melalui SMS, Facsimilie, telepon, email dan radio. Dan yang paling efektif dalam penyampaian informasi bencana tsunami bagi masyarakat pesisir adalah melalui Radio. Aplikasi sistem ini selain untuk peringatan dini tsunami, juga dapat digunakan untuk operasi minyak lepas pantai, navigasi kelautan, penelitian kelautan bahkan aplikasi militer dan pertahanan negara.

Gambar 4. Indonesian Tsunami Early Warning System
Sumber : http://www.ilmukelautan.com

Walaupun keberadaan sistem peringatan dini tsunami cukup bermanfaat, tetap saja sistem ini tidak dapat melindungi manusia dalam menghadapi bencana yang terjadi secara tiba – tiba. Dengan kata lain apabila bencana tsunami terjadi secara mendadak maka sistem ini tidak dapat menyelamatkan manusia dari terjangan gelombang besar. Sistem ini hanya dapat digunakan bila jarak pusat gempa cukup jauh dari pesisir pantai, sehingga dapat memberikan kesempata bagi masyarakat pesisir dalam mengevakuasi diri ke daerah yang datarannya lebih tinggi.

BAB III
KESIMPULAN
            Tsunami adalah suatu gelombang pasang air laut yang terjadi akibat gempa bumi yang berpusat atau terjadi di bawah permukaan laut dengan disertai naiknya permukaan air laut dan gelombang air. Tsunami merupakan bencana alam yang cukup besar menimbulkan kerugian serta korban baik meninggal maupun yang hilang. Perlu adanya suatu mitigasi bencana alam dalam menghadapi bencana tsunami. Salah satunya yaitu sistem peringatan dini tsunami. Yang mana sistem ini dapat memberikan informasi apabila adanya kemungkinan munculnya tsunami agar masyarakat dapat menyelamatkan diri masing – masing dari gelombang air yang sangat tingggi ini. Kita mungkin tidak dapat mengalahkan atau mencegah datangnya tsunami tetapi kita dapat mengenal dan mempelajarinya sehingga kita dapat mengetahui kapan tsunami ini akan terjadi dan bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana ini.

DAFTAR PUSTAKA

Adams, William Mansfield, Sr. Dan Jan Malan Jordan, Jr. 2005. Tsunamis and Tsunami Warning Systems. http://www.eolss.net/Sample-Chapters/C07/E2-15-04-05.pdf. Diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 19.17 WIB.
Anonim. 2011. Tsunami. http://bpbdserang01.page4.me/68.html. Diakses pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 20.14 WIB.
Anonim. 2012. Tsunami. http://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami. Diakses pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 20.03 WIB.
Ahira, Anne. 2011. Cara Penanggulangan Tsunami. http://www.anneahira.com/cara-penanggulangan-tsunami.html. Diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 19.10 WIB.
Ahmad, Faisal. 2010. Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Warning System). http://www.ilmukelautan.com. Diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 19.21 WIB.
Djamaluddin, Ridwan dan Sudharmono. 2012. Sistem Peringatan Dini Tsunami. http://www.bic.web.id. Diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 19.24 WIB.
Nugraha, Mara. 2011. Penanggulangan Bencana Tsunami. http://maranugraha.wordpress.com. Diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 19.03 WIB.
Trisusanto, Riadi. 2011. Berkenalan dengan Tsunami. http://pencerahan-sejarah.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 20.27 WIB.

Kamis, 29 Maret 2012

EKOSISTEM WILAYAH PESISIR

Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara pengaruh daratan dan samudra. Wilayah pesisir di Indonesia tergolong cukup luas karena kita memiliki garis pantai sekitar 81.000 km. Pesisir memberikan andil yang cukup besar bagi kehidupan manusia, karena secara turun temurun telah menjadi sumber protein yang subur. Perairan pantai yang dangkal dapat menyebabkan tingginya kandungan sedimen yang dibawa oleh ombak yang dapat mengaduk dasar perairan. Yang mana sedimen yang terendapkan banyak jenisnya, dan memberikan topografi pantai yang berbeda satu dengan yang lainnya. Daratan dekat pantai memberikan pengaruh yang cukup besar, diantaranya salinitas yang lebih rendah, tingginya tingkat sedimentasi yang berakibat berkurangnya daya tembus sinar matahari, serta bertambahnya rasio antara larva planktonik dan plankton dewasa.
            Secara teoritis, wilayah pantai dapat dibagi menjadi mintakat yang selalu terendam air dan mintakat pasut, yakni mintakat yang selalu mengalami pengeringan dan perendaman akibat pasang surut air laut. Dan yang banyak diketahui sifat ekologi dan sumberdaya hayatinya merupakan mintakat pasut. Sifat-sifat mintakat pasut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya selain pasang surut air laut juga dipengaruhi oleh suhu, yang mana suhu di wilayah ini lebih besar daripada suhu di bagian laut lainnya. Faktor lain yaitu cahaya. Sama seperti suhu, cahaya di mintakat pasut lebih besar daripada dibagian laut lainnya kecuali air permukaan laut bebas, dan hal ini memiliki pengaruh langsung terhadap sebaran tumbuhan-tumbuhan laut, karena tumbuhan-tumbuhan ini memerlukan cahaya matahari untuk fotosintesis. Beberapa ekosistem yang utama dan banyak diperbincangkan dan diteliti karena peranannya sebagai penopang pembangunan kelautan, baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu terumbu karang, mangrove, dan lamun.

Gambar1. Ekosistem Pesisir

            Rantai makanan merupakan proses pemindahan energi makanan dari sumbernya melalui hubungan makan-dimakan. Sumber energi biasanya berasal dari tumbuhan yang mampu mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Hewan memakan tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh zat organik. Yang kemudian hewan ini akan dimakan oleh hewan yang lebih besar dan seterusnya. Hewan terbesar yang tidak dimakan akhirnya akan mati dan terurai oleh bakteri menjadi zat anorganik kembali untuk dimanfaatkan oleh tumbuhan dan seterusnya. Di laut seperti halnya di darat, sumber energi berasal dari tumbuhan air yang dapat berfotosintesis. Sehingga faktor utama yang mempengaruhi fotosintesis adalah keberadaan cahaya, dan hanya tumbuhan hijau yang dapat mengubah energi ini menjadi sumber energi bagi hewan air. Oleh karena itu jumlah hewan yang hidup harus lebih sedikit dibandingkan jumlah tumbuhan hijau yang hidup, sehingga hewan-hewan dapat dapat bertumpu pada kelebihan energi yang dihasilkan dan tidak kelaparan. Rantai makanan ini menggambarkan kebutuhan makhluk hidup akan makanan untuk mempertahankan hidupnya, serta untuk mendapatkan makanan tersebut mereka harus mencarinya dan siap untuk dimangsa oleh yang lain dalam satu ekosistem.
            Rantai makanan di bagi dua berdasarkan sifat sumbernya, yaitu rantai makanan merambah atau merumput (grazing food chain) dan rantai makanan detritus (detritus food chain). Hampir 90% dari produksi tanaman termasuk ke dalam rantai makanan detritus. Kumpulan detritus berasal dari biomassa tumbuh-tumbuhan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pola rantai makanan di tiga ekosistem wilayah pantai, yakni lamun, mangrove dan terumbu karang berbeda satu dengan yang lainnya.


Gambar2. Rantai makanan detritus

Rantai makanan di daerah pantai atau pesisir yang sangat berperan adalah rantai makanan detritus, sedangkan rantai makanan merumput merupakan rantai makanan yang lebih pendek jika dibandingkan dengan rantai makanan di samudra terbuka. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai rantai makanan wilayah pantai dapat dilihat di http://elsanurman.blogspot.com.




Sumber :
Romimohtarto,  Kasijan dan. Sri Juwana. 2007. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Penerbit Djambatan: Jakarta.
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Penerbit PT. Gramedia: Jakarta.
Effendi, Ecko. 2009. Keterkaitan Ekosistem di Wilayah Pesisir. http://perikananunila.wordpress.com/2009/08/01/keterkaitan/. Diakses pada tanggal 29 Maret 2012 pukul 21.04 WIB.              

Sabtu, 24 Maret 2012

sedimen mangrove


Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peranan yang sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan manusia tetapi juga bagi hewan – hewan yang hidupnya bergantung di daerah kawasan mangrove. Karen banyaknya manfaat yang dapat di ambil dari mangrove, fungsi mangrove maupun hutan mangrove di bagi menjadi dua, yaitu fungsi ekologis dan ekonomis. Secara ekologis mangrove berfungsi sebagai tempat ikan mencari makan, tempat tinggal, tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat memijah. Dan manfaatnya bagi kehidupan manusia hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, pengatur iklim mikro dan sebagai penghadang terjangan ombak besar. Sedangkan fungsi ekonominya dapat diperoleh dengan memanfaatkan bagian – bagian dari tumbuhan mangrove. Seperti misalnya batang kayu mangrove dapat dgunakan sebagai kayu bakar, bahan baku keperluan rumah tangga maupun industri, selain itu juga buahnya dapat dijadikan tepung untuk bahan makanan. Juga sebagai daerah pariwisata.
Mangrove hanya dapat tinggal di daerah pantai yang selalu tergenang air laut yang pasang surut. Hutan mangrove merupakan vegetasi yang mampu tumbuh pada pantai yang terlindung. Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Sedangkan menurut Bengen (2004), hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang – surut pantai berlumpur. Lain halnya dengan Steenis, menurut Steenis (1978) mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut. Menurut Hutabarat dan Evans (1986) mangrove adalah tumbuhan yang dapat membentuk daratan lumpur karena mangrove dapat bertahan dari salinitas yang tinggi dan tahan terhadap rendaman air. Susunan jenis dan kerapatan tegakan pada wilayah mangrove sangat dipengaruhi oleh susunan kondisi tanah. Pada umumnya tanah yang terdiri atas liat dan debu terdapat tegakan yang lebih rapat dibandingkan pada lahan yang konsentrasi liat dan debunya rendah (Wiaroatmodjo, 1994 dalam Alkaf, 2003). Dalam pertumbuhannya, mangrove memiliki beberapa faktor lingkungan penting yang harus diperhatikan diantaranya yaitu salinitas, temperatur, pH, musim, pasang surut air laut dan saluran air. Selain itu yang memberi pengaruh penting lainnya yaitu substrat atau sedimen. 
Sedimentsi merupakan proses terbentuknya endapan dari partikel – partikel yang terbawa oleh air, angin, es maupun gletser. Partikel sedimen ini biasanya merupakan material yang berasal dari hasil pelapukan batuan dan pengikisan permukaan bumi. Asal sedimen itu sendiri sebenarnya dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu sedimen Lithogenous (sedimen yang berasal dari daratan), sedimen Biogenous (sedimen yang berasal dari sisa rangka organisme hidup, terutama hewan yang memiliki cangkang karbonat dan kalium fosfat), sedimen Hydrogenous (sedimen yang berasal dari lautan yang terbentuk secara perlahan melalui penyerapan mineral ke dasar laut), dan sedimen Cosmogenous (yaitu sedimen yang berasal dari luar angkasa). Ukuran sedimen pun beragam dan mulai dari yang Boulders (yang berukuran > 256 mm) sampai yang berjenis Dissolved material (dengan ukuran partikel < 0,0005 mm). Sedangkan untuk jenis partikel yang terendapkan di kawasan hutan mangrove termasuk ke dalam jenis partikel Clay atau lempung yang memiliki ukuran partikel sebesar 0,0005 – 0,002 mm.
Dengan ukuran partikel yang sangat kecil, sedimen ini dapat diangkut dengan cara suspension yang pada umumnya memang terjadi pada sedimen yang sangat kecil ukurannya seperti lempung sehingga mampu diangkut oleh aliran air ataupun angin. Selain dengan cara suspension sedimen juga dapat diangkut dengan cara Bed load yaitu dengan cara menggelinding, menggeser atau mendorong sedimen satu dengan yang lainnya. Cara ini hanya terjadi pada jenis partikel sedimen yang relatif lebih besar seperti pasir, kerikil, dan bongkahan. Cara lainnya yaitu Saltation yang berarti meloncat. Biasanya terjadi pada sedimen yang berukuran sedang seperti pasir, dimana aliran fluida mampu menghisap dan mengangkut sedimen pasir sampai dapat turun kembali ke dasar akibat adanya gaya gravitasi.  Ukuran partikel memiliki peranan penting dalam proses pengendapan atau sedimentasi. Hal ini dapat dilihat dari berat jenis pada partikel pembentuk sedimen, dimana berat jenis pada partikel yang lebih besar kurang bisa diangangkut oleh air sehingga akan diendapkan di dekat daratan, sedangkan partikel yang lebih kecil yang memiliki berat jenis lebih ringan akan diangkut oleh air sampai bertemu cekungan ataupun turun ke dasar akibat adanya gravitasi bumi dan membentuk endapan. Pengendapan partikel tidak hanya bergantung pada ukuran partikel tetapi juga terhadap arus. Partikel yang lebih besar mengendap lebih cepat daripada partikel yang lebih kecil dan arus yang kuat mempertahankan partikel dalam suspensi lebih lama daripada arus yang lemah. Oleh karena itu, substrat pada tempat yang arusnya kuat akan menjadi kasar (pasir atau kerikil), karena hanya partikel besar yang akan mengendap; sedang jika perairan yang tenang dan arus lemah, lumpur halus akan mengendap.
Estuari (muara sungai) adalah tempat hidup mangrove, dimana kebanyakan estuari dipenuhi oleh substrat berlumpur yang sering sekali sangat lunak. Substrat berlumpur ini berasal dari sedimen yang di bawa ke dalam estuari baik oleh air laut maupun air tawar. Pengangkutan partikel pasir yang lebih besar oleh angin ke dalam muara sungai sering kali penting artinya di beberapa daerah. Sedangkan air tawar, sungai dan kali mengangkut partikel lumpur dalam bentuk suspensi. Ketika partikel yang telah tersuspensi bercampur dengan air laut di muara sungai, kehadiran beberapa ion yang berasal dari air laut menyebabkan partikel partikel lumpur menggumpal, membentuk partikel yang lebih besar dan lebih berat serta mengendap membentuk dasar lumpur yang memiliki ciri tertentu. Peran partikel yang di bawa oleh air laut maupun air tawar terhadap pembentukan substrat lumpur tidaklah sama dari satu estuari ke estuari lainnya dan juga bergantung pada letak geografinya (Nybakken, 1992).
Hutan mangrove dapat menahan gelombang air laut yang tinggi karena memiliki sistem perakaran yang rumit. Akibat adanya hutan mangrove sebagai penghalang arus laut sehingga arus yang melewati hutan bakau merupaka arus lemah. Hal ini menyebabkan sedimen atau substrat ataupun bahan organik tertahan sehingga tidak dapat kembali ke laut dan yang terendapkan di kawasan ini merupakan sedimen halus. Menurut Nybakken (1992) gerakan air yang lambat menyebabkan partikel sedimen yang halus cenderung mengendap dan berkumpul di dasar. Proses ini dapat mengakibatkan terjadinya sirkulasi interstitial (yang merupakan pergantian atau pergerakan organisme yang hidup diantara butiran – butiran pasir) yang minimal dan banyaknya bakteri yang hidup. Tingginya bahan organik dan bakteri populasi bakteri di sedimen mengakibatkan besarnya kebutuhan oksigen di perairan interstitial. Ukuran partikel sedimen yang halus dapat menghambat pertukaran antara air interstitial dan kolom air di atasnya, sehingga oksigen akan cepat berkurang. Hal ini dapat dikatakan sebagai kondisi anoksik sehingga menekan mangrove untuk beradaptasi dengan memiliki akar yang dangkal atau pneumatofor agar dapat memperoleh oksigen. Walaupun memiliki pneumatofora, apabila jumlah pengendapan partikel sedimen berlebihan dapat menyebabkan tertimbunnya atau terkuburnya pneumatofora sehingga pada akhirnya dapat mematikan pohon mangrove. Walaupun dapat menimbulkan keadaan anoksik, pembentukan sedimen di kawasan hutan mangrove dapat mencegah terjadinya erosi pantai sehingga tidak akan ada penurunan garis pantai.
Keberadaan sedimen di kawasan hutan mangrove memiliki kandungan nutrien dan bahan organik yang cukup tinggi. Hal ini dibantu dengan bercampurnya sedimen yang berasal dari laut yang mengandung banyak mineral dengan serasah (daun mangrove) yang berguguran. Yang akan teruraikan menjadi bagian yang lebih kecil dan akan tersuspensi dan dikonsumsi oleh zooplankton. Sebagian besar massa detritus akan tertahan oleh akar mangrove dan terekomposisi sehingga mendorong akumulasi bahan organik pada sedimen hutan mangrove dan akan mempengaruhi kondisi tanah. Hasil dekomposisi inilah yang kemudian berubah menjadi bahan organik dan dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih gelap dan lebih stabil (Hardjowigeno, 1992). Pertumbuhan dan perkembangan hutan mangrove sangat dipengaruhi oleh tekstur dan kandungan bahan organik sedimen, yaitu pada daerah yang ukuran partikel sedimennya lebih halus dan kandungan bahan organik lebih tinggi, pertumbuhan dan perkembangan hutan mangrovenya lebih bagus.
Unsur – unsur hara yang berperan penting bagi organisme di daerah kawasan hutan mangrove yaitu nitrat (NO) dan fosfat (PO4), yang juga sebagai nutrien utama yang menentukan kestabilan pertumbuhan mangrove. Nitrat pada sedimen biasanya di bawa oleh air tawar yang berasal dari sungai, yang merupakan pemecahan nitrogen organik dan anorganik dalam tanah yang berasal dari dekomposisi bahan organik dengan bantuan mikroba. Menurut Carpenter dan Capone (1983) bahwa pada ekosistem mangrove, fikasasi nitrogen ditemukan terjadi pada sedimen meskipun hanya beberapa sentimeter pada bagian atas lapisan sedimen. Menurut Potts (1984) bahwa fikasasi nitrogen pada sedimen dengan vegetasi mangrove diatasnya lebih tinggi daripada sedimen tanpa tumbuhan yang ada di atasnya, hal ini karena perbedaan kandungan detritus yang ada dalam tanah.
Kandungan fosfor pada sedimen di kawasan hutan mangrove yang berasal dari laut biasanya terbentuk dari dekomposisi organisme laut yang sudah mati. Sedangkan sumber yang berasal dari daratan berasal dari endapar terestrial yang mengalami erosi ataupun dari pupuk pertanian yang di bawa oleh aliran sungai. Pada sedimen lempung seperti yang terdapat pada sedimen di kawasan hutan mangrove diserap oleh sedimen yang terhidrolisis. Peningkatan ortofosfat sebanding dengan peningkatan konsentrasi sedimen. Material-material yang tersuspensi juga dapat membawa fosfat yang terabsorbsi didalamnya ( Stednik, 1991).
Dalam jangka waktu jutaan tahun yang akan datang keberadaan mineral dalam sedimen akan memberikan manfaat yang besar. Salah satunya sebagai penyumbang energi seperti minyak dan gas alam. Selain itu sedimen mangrove juga apabila ditambang dapat membuat kualitas pasir menjadi bagus untuk bahan bangunan dan membuat jalan. Oleh karena itu dengan kita melestarikan keberadaan mangrove di pesisir pantai kita dapat mencegah terjadinya banjir besar, abrasi pantai ataupun tsunami. Walaupun keberadaan mangrove mempercepat pembentukan sedimen, tetapi mangrove dapat menghambat terjadinya abrasi pantai. Bila keberadaan mangrove dihilangkan maka abrasi pantai akan semakin besar, sehingga garis pantai akan semakin berkurang. Selain itu sedimen dari daratan yang di bawa oleh air sungai akan ikut terperangkap di sekitar akar mangrove dan tidak akan ikut kembali ke sungai. Karena apabila ikut terbawa kembali ke sungai dan terendapkan di hilir sungai maka akan terjadi peninggian dasar sungai dan menyebabkan banjir. Maka demi melindungi habitat manusia dan oranisme lain dan juga mencegah terjadinya bencana, maka sebaiknya kita harus melestarikan mangrove yang ada di pesisir. Sebaiknya dilakukan penghijauan kembali daerah pesisir dengan penanaman mangrove. Keberadaan tambak – tambak liar yang dapat merusak keberadaan mangrove diberikan tindakan tegas oleh pemerintah. Selain itu juga banyaknya aktivitas manusia yang dilakukan seperti pembuangan sampah cair yang dapat menurunkan oksigen terlarut akibat sampah – sampah cair ini mengalami dekomposisi anaerobik yang menghasilkan sulfida (H2S) dan amina (NH3). Sampah padat juga memberikan andil dalam perusakan mangrove. Hal ini terjadi karena sampah padat menumpuk di hutan mangrove maka akan terjadi kemungkinan terlapisnya pneumatofor yang mengakibatkan kematian pohon – pohon mangrove. Kewajiban menjaga kelestarian hutan mangrove tidak hanya milik masyarakat pesisir tetapi juga kita sebagai warga negara Indonesia serta mahasiswa yang sadar akan lingkungan dan sadar akan keselamatan hidup manusia di masa mendatang.