Kamis, 15 November 2012

Resistensi bivalvia terhadap pencemar logam


Pencemaran yang terjadi di perairan akibat limbah industri mengakibatkan beberapa organisme laut mati, tetapi untuk jenis kerang-kerangan (bivalve) seperti contohnya remis / kerang hijau dapat bertahan terhadap pencemaran dan tetap hidup. Kerang memiliki sifat filter feeder dimana kekerangan memperoleh makanan dengan cara menyaring bahan-bahan organik dan anorganik yang larut dalam air dengan tidak terkecuali. Oleh karena itu kekerangan merupakan salah satu biota yang digunakan sebagai indikator yang baik untuk memonitor pencemaran lingkungan.
Kerang ini memiliki kecenderungan mengakumulasi dan mengeliminasi biotoksin laut pada jaringan-jarongannya. Remis lebih sering menjadi pemangsa yang tidak diskriminan bagi fitoplankton dan oleh karenanya lebih cepat mengeluarkan biotoksin daripada spesies-spesies kerang-kerangan lainnya. Tingkat biotoksin didalam remis biasanya 10 kali lebih tinggi daripada tiram dan manila atau clam littleneck yang hidup di daerah yang sama. Remis juga cenderung membersihkan jaringan biotoksin mereka lebih cepat daripada spesies-spesies lainnya. Pada scallop, biotoksin dapat diakumulasikan dalam level yang tinggi dan dapat dipertahankan dalam kurun waktu yang lama. Mereka masih beracun bahkan setelah berada di tempat aman. Racun-racun tersebut biasanya berada di lapisan, viscera dimana kita bisa melihat level yang lebih besar daripada 1000 mikrogram. Pada sebagian besar spesies, otot adductor jarang mengakumulasikan tingkat yang akan menyebabkan kematian. Satu pengecualian adalah scallop native purple hinge rock yang sudah ditemukan menaikkan tingkat biotoksin di otot-otot adductor. Dengan spesies yang lebih kecil, misalnya scallop pink dan spiny, tidak berlaku karena sebagian besar hewan ini dipasarkan dan dikonsumsi dan pembuangan otot adductor biasanya tidak dilakukan.
Berdasarkan Aunurohim (2006) dalam jurnal Nurlita menyatakan bahwa bioakumulasi logam berat cenderung menurun seiring dengan meningkatnya ukuran cangkang pada kerang Anadara inadequate. Hal ini sering disebut dengan growth-dilution. Beberapa alasan terkait growth-dilution adalah sebagai berikut :
a.       Diduga mekanisme growth-dilution terkait erat dengan cara makan kerang bivalvia yaitu filter-feeder. Barnes (1968) menyatakan bahwa proses penyaringan pada bivalvia masuk melalui sifon inkuren dan tersaring di insang. Penyusun utama lapisan membran insang adalah epitel pipih selapis dan berhubungan langsung dengan sistem pembuluh, dan diduga logam berat yang masuk bersamaan dengan partikel makanan mengalami difusi melalui membran insang dan terbawa aliran darah. Insang bivalvia, termasuk P.viridis mempunyai mucus atau lendir yang penyusun utamanya adalah glikoprotein. Sehingga diduga logam tersebut terikat menjadi metallothienin karena penyusun utamanya adalah sistein yaitu protein yang tergolong dalam gugus sulfidril (-SH) yang mampu mengikat logam. Oleh karena sifat mucus insang yang mengalami regenerasi, maka logam berat (termasuk kadmium) yang telah terikat pada mucus insang turut terlepas dari tubuhnya (Overnell dan Sparla, 1990).
b.      Masih terkait dengan mekanisme filter-feeder, aliran air laut akan berlanjut menuju ke labial palp dimana pada bagian tersebut akan melalui beberapa proses penyaringan dengan cilia-cilia. Partikel yang berukuran kecil akan lolos, sementara yang berukuran besar akan dikeluarkan kembali melalui sifon-inkuren dalam bentuk pseudofeces (Pechenik, 2000). Hal ini juga diduga merupakan salah satu faktor menurunnya konsentrasi kadmium seiring dengan membesarnya ukuran tubuh.
c.       Faktor ketiga terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh Cheney (2007), dimana tiram Crassostrea sp. yang dibudidayakan di Willapa Bay mengakumulasikan kadmium lebih banyak pada masa pertumbuhan tahun pertama dan kedua dalam siklus hidupnya. Sementara tahun ketiga dan keempat justru mengalami penurunan. Hal ini diduga karena adanya tingkat kejenuhan organisme tersebut dalam mengakumulasikan logam. Oleh karena itu, diduga juga bahwa tingkat akumulasi logam berat sangat bergantung pada jenis spesies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar