Rabu, 02 Oktober 2013

Ekosistem Mangrove


            Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon dan semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau. Pada dasarnya ekosistem mangrove termasuk ke dalam lingkup ekosistem pantai, dikarenakan letak mangrove yang berada di perbatasan antara laut dan darat. Ekosistem mangrove merupakan lingkungan yang memiliki ciri khusus dimana dasar tanahnya digenangi oleh air laut yang mana salinitas dan fluktuasi permukaan airnya dipengaruhi oleh pasang surut. Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove. Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neitektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar dan tipe tanah.
            Untuk bisa bertahan dan berkembang menyebar di kondisi alam yang keras, jenis-jenis bakau sejati mempunyai cara yang khas yaitu mekanisme reproduksi dengan buah yang disebut vivipar. Cara berbiak vivipar adalah dengan menyiapkan bakal pohon (propagule) dari buah atau bijinya sebelum lepas dari pohon induk. Mangrove menghasilkan buah yang mengecambah, mengeluarkan akar sewaktu masih tergantung pada ranting pohon dan berada jauh di atas permukaan air laut. Bijinya mengeluarkan tunas akar tunjang sebagai kecambah sehingga pada waktu telah matang dan jatuh lepas dari tangkai nanti, telah siap untuk tumbuh. Buah ini akan berkembang sampai tuntas, siap dijatuhkan ke laut untuk dapat tumbuh menjadi pohon baru. Bakal pohon yang jatuh dapat langsung menancap di tanah dan tumbuh atau terapung-apung terbawa arus, sampai jauh dari tempat pohon induknya, mencari tempat yang lebih dangkal. Setelah matang dan jatuh ke dalam air, bakal pohon bakau ini terapung-apung sampai mencapai tepi yang dangkal. Pada saat menemukan tempat dangkal, posisi bakal pohon menjadi tegak vertikal, kemudian menumbuhkan akar-akar, cabang dan daun-daun pertamanya.  
            Mangrove dapat ditemukan di beberapa taman nasional, seperti taman nasional Kutai Kalimantan Barat, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Wisata Perairan Padaido Biak, Surabaya, BPPLHD Karawang, dan masih banyak lagi. Walaupun lahan mangrove tidak begitu luas tetapi saat ini pemerintah sedang mengupayakan pelestarian hutan mangrove, dikarenakan manfaat hutan mangrove sebagai pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Akibat dari adanya pembangunan wilayah pesisir menyebabkan terjadinya perubahan pada ekosistem mangrove. Ekosistem hutan mangrove merupakan sumberdaya alami kaya akan fungsi dan manfaat, salah satunya sebagai peredam dan pelindung dari gempuran gelombang yang timbul. Namun karena ulah manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi ini, hutan mangrove yang seharusnya dapat diambil manfaatnya oleh manusia, berubah menjadi rusak. Baik itu disebabkan eksploitasi hutan mangrove menjadi lahan komersial atau kerusakan karena pencemaran, sehingga kelestariannya tidak terjaga lagi. Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Kegiatan manusia baik sengaja maupun tidak sengaja telah menimbulkan dampak terhadap ekosistem mangrove. Dampak dari aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove menyebabkan luasan hutan mangrove turun cukup mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia turun dari 5,21 juta hektar antara tahun 1982-1987 menjadi 3,24 hektar dan makin menyusut menjadi 2,5 juta hektar pada tahun 1993 (Wigido 2000).
            Oleh karena itu diperlukan pengelolaan mangrove. Di Indonesia sendiri pengelolaan mangrove didasarkan pada tiga tahapan utama, yaitu tahapan ekologi dan sosial ekonomi, kelembagaan dan perangkat hukum, serta strategi dan pelaksanaan rencana. Pada tahapan ekologi semua dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove haris diidentifikasi, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Di samping lembaga-lembaga lain, Departemen Pertanian dan Kehutanan, serta Departemen Kelautan dan Perikanan, merupakan lembaga yang sangat berkompeten dalam pengelolaan mangrove. Koordinasi antar instansi yang terkait dengan pengelolaan mangrove adalah mendesak untuk dilakukan saat ini. Dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian mangrove, terdapat dua konsep utama yang dapat diterapkan. Kedua konsep tersebut pada dasarnya memberikan legitimasi dan pengertian bahwa mangrove sangat memerlukan pengelolaan dan perlindungan agar dapat tetap lestari. Kedua kosep tersebut adalah perlindungan hutan mangrove dan rehabilitasi hutan mangrove (Bengen, 2001). Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka perlindungan terhadap keberadaan hutan mangrove adalah dengan menunjuk suatu kawasan hutan mangrove untuk dijadikan kawasan konservasi, dan sebagai bentuk sabuk hijau di sepanjang pantai dan tepi sungai. Saat ini dikembangkan suatu pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove partisipatif yang melibatkan masyarakat. Ide ini dikembangkan atas dasar pemikiranbahwa masyarakat pesisir yang relatif miskin harus dilibatkan dalam pengelolaan mangrove dengan cara diberdayakan, baik kemampuannya (ilmu) maupun ekonominya. Pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove yang dikembangkan adalah pola partisipatif meliputi : komponen yang diawasi, sosialisasi dan transparansi kebijakan, institusi formal yang mengawasi, para pihak yang terlibat dalam pengawasan, mekanisme pengawasan, serta insentif dan sanksi (Santoso, 2000).    


Sumber:
http://www.freewebs.com/irwantomangrove/mangrove_kelola.pdf
http://kesematindonesia.wordpress.com/2009/05/13/ini-dia-daur-hidup-mangrove-dari-kecil-sampai-besar/
http://saryhauliah.blogspot.com/2012/01/kerusakan-ekosistem-mangrove-dan.html

Kerusakan Pada Mangrove


KERUSAKAN ALAMI
Kebakaran hutan mangrove yang pernah terjadi di lahan Pesisir Timur Sembilang pada tahun 1980 – 1990an berhubungan dengan pembukaan lahan yang luas ( untuk perkebunan dan transmigrasi) dan oleh penduduk setempat. Sedangkan kebakaran yang terjadi pada tahun 1997 disebabkan oleh kegiatan penebangan liar, nelayan dan pengembangan kawasan transmigrasi ( Dennis et al, 2000).
Kerusakan yang ditimbulkan karena factor biologi adalah serangan hama. Hama pada tanaman mangrove yang ditemukan di beberapa tempat secara singkat dapay dijelaskan sebagai berikut :
·         Ulat ( Lepidoptera )
a.       Ulat kantong Acanthopsyche sp. ( Lepidoptera, psychidae) menyerang tanaman Bruguierai spp ( tancang) di Cilacap, Rhizophora spp di Purwakarta dan Rhizophora mucronata di Pemalang. Bagian tanaman yang diserang ulat kantong ini adalah bagian daunnya. Daging daun merupakan bagian yang dimakan, urat- urat dan tulang daun tetap utuh. Apabila sebagian besar daging daun habis dimakan, daun akan kering. Tanaman muda yang sebagian besar daun- daun dan kuncup ujung diserang ulat berakibat kematiannya.
b.      Ulat bulu (Lepidoptera) menyerang tanaman Rhizophora spp di Pemalang, Brebes, Purwakarta. hama ini hamper tiap tahun menyerang tanaman bakau muda yaitu ulat bulu dan sebangsa ulat kantong. Ulat memakan daun sejak menetas sampai menjelang kepompong. Tanaman bakau yang daunnya habis dimakan ulat pada lahan kondisi mongering umumnya mati. Meningkatnya populasi ulat diperkirakan karena langka predator. Usaha penanggulangan pada daun bakau yang diserang dengan menggunakan tangan dan dikeprak, namun karena populasinya tinggi dicoba dengan insektisida yang sangat terbatas dan diatur pelaksanaannya disesuaikan dengan tata waktu kegiatan empang parit.
c.       Ulat pucuk tunas Capua endoeypa ( Lepidoptera) menyerang tanaman Rhizopara mucronata di Bali. Ulat yang merupakan larva didalam tunas bibit dan memakan tunas tersebut sebelum daun terbuka. Meskipun bibit tidak akan mati, tetapi akan terhenti atau menjadi lambat pertumbuhan sehingga akan menurun kualitasnya. Adanya serangan ini ditandai oleh adanya telur maupun lubang- lubang kecil pada pucuk tunas bibit. Pengendaliannya dengan cara membuka tunas yang ditandai adanya lubang- lubang kecil, kemudian ulat diambil dan dibunuh.
d.      Ulat daun Dasyehira sp,memakan daun semai Avicenmia marma di Bali. Ulat dapat diatasi dengan memasang jaring plastik diatas bedeng, setelah jaring dibuka, sebaiknya segera diperiksa dan bila dijumpai segera dibunuh. Bila terjadi kerusakan serius bisa disemprot dengan insektisida atau dipindahkan ke bedeng pasang surut.

·         Kutu sisik chionapsis sp ( hemiptera, diaspididae)
Hama ini dilaporkan menyerang tanaman reboisasi dari jenis Rhizhopora di Bali tahun 1995 dan kutu sisik berbentuk bulat telur ujungnya membesar yang dilindungi oleh perisai yang lunak. Serangan kutu sisik ini akan menyebabkan daun   menguning dan akhirnya kering. Cara mengendalikan kutu sisik dari hasil penelitian dengan menggunakan fluorbac FC dengan bahan aktif bacilius turingiensisi  dan asodrin 15 wsc, rata- rata serangan hama menurun bahkan sebagian pohon tampak pulih dan berangsur- angsur sehat.
·         Belalang
Belalang sering menyerang tanaman mangrove dengan memakan daunnya terutama yang masih muda. Penanganannya belalang diambil atau bila jumlahnya banyak  dengan menggunakan insektisida. Namun penggunaan insektisida tidak dianjurkan.
·         Laba- laba
Laba-laba hidup/ bersarang pada tanaman bakau yang kecil dan besar, bambu pancang penguat tanggul, pemakan diantara rekahan sawah dan gulma serta gubug- gubug pantai. Hama laba- laba menyerang tanaman bakau pada bulan kering, baik yang muda maupun tua. Pada tanaman muda laba-laba dapat mematikan tanaman karena tajuk tanaman seluruhnya dibalut rapat oleh jaring laba-laba. Tajuk yang terbungkus dalam waktu lama akan menyebabkan tanaman bakau kering dan mati. Serangan akan lebih hebat jika lingkungan terbuka tanpa tanaman lain. Usaha penanggulangan dengan cara membuikan tempat pemijahan laba- laba berupa vegetasi pada galengan empang parit, bamboo perangkap sekitar empang parit diikuti cara mekanis.
·         Ketam
Ketam (Sesarma spp) menyerang buah / benih Brugmera gymnorrhriza dan Rhizophora spp di Cilacap. Hama ini menyerang pada benih bakau yang masi segar karena mengandung protein karbohidrat ( zat gula). Untuk mengurangi yaitu dengan menurunkan kadar gula benih disimpan selama 1 minggu atau membuat pagar kecil sekitar benih dengan daun paku- pakuan atau menggunakan bumbung bambu.
·         Mamalia
Mamalia termasuk hama yang dapat merusak tanaman mangrove diantaranya kera, kerbau, sapi, dan kambing. Binatang ini akan memakan daun yang masih muda hingga habis dan akhirnya tumbuhan mangrove akan mati. Untuk menanggulangi hewan tersebut harus dihalau dan jangan dilepas untuk merumput di dekat tanaman mangrove yang baru tanam.



KERUSAKAN AKIBAT AKTIVITS MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN
                Faktor utama penyebab kerusakan hutan bakau di Balikpapan adalah bisnis kelapa sawit, industri pesisir, dan perumahan. Terhitung 20 ribu hektar kawasan hutan bakau mengalami kerusakan. Sebagian besar dari hutan bakau yang rusak tersebut telah berganti menjadi perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengelolaannya. Kasus pengrusakan hutan bakau di Balikpapan terus meningkat setiap tahunnya. Sekitar 14 ribu hektar hutan bakau di Balikpapan Barat dan Balikpapan Utara serta 6 ribu hektar hutan bakau di Balikpapan Timur mengalami kerusakan. Wilayah Teluk Balikpapan yang merupakan lokasi deretan hutan bakau di pesisir barat Balikpapan, banyak ditemui sampah plastik dan rokok yang menyangkut di ranting ataupun mendangkalkan perairan teluk. Pengembangan perkebunan kelapa sawit, industri pesisir terutama Kawasan Industri Kariangau dan kompleks perumahan besar telah menebang bakau di tepi pantai dan pinggiran sungai di teluk ini.Penebangan yang paling parah terjadi di wilayah Ulu teluk, kawasan ini menjadi gersang akibat konversi lahan yang ekstensif untuk perkebunan sawit dan pabrik pengolahannya. Kebijakan pemerintah untuk membabat 30% atau 6 hektar dari hutan bakau di wilayah Teluk Balikpapan mengakibatkan kian terbukanya akses kawasan yang menjadi habitat satwa langka seperti bekantan yang jumlahnya tinggal 400 ekor di Balikpapan. Konsekuensi dari pembangunan Jembatan Pulau Balang yaitu kerusakan hutan dalam skala besar baik secara langsung maupun tidak langsung, pembukaan akses ke hutan, kebakaran lahan, pembangunan ilegal, perburuan hewan yang dilindungi dan pengembangan industri yang tidak bisa dibatasi. Pembangunan jembatan tersebut juga membuat hutan bakau di Teluk Balikpapan terisolasi dengan hutan sekunder yang merupakan tempat bekantan mencari makan. Kasus tersebut telah terjadi di Somber yang mengakibatkan bekantan mati keracunan akibat mengkonsumsi buah rambai laut di hutan bakau secara berlebihan, sehingga hewan berhidung panjang tersebut diprediksi akan punah pada tahun 2024. Pembangunan jembatan tersebut juga mendapat kecaman internasional yang dibahas dalam Kongres Primatologi Internasional di Jepang karena mengancam keberadaan bekantan. Apabila hutan bakau di Teluk Balikpapan habis dan rusak, maka Balikpapan akan kehilangan keanekaragaman hayati yang masih hidup seperti bekantan, pesut teluk, Gynacantha bartai (spesies capung baru), monyet, beragam ikan dan burung serta berbagai jenis tumbuhan.

                Kerusakan hutan mangrove di Provinsi Gorontalo makin mengkhawatirkan. Dari total 17.204,84 hektare hutan mangrov yang ada di garis pantai Gorontalo, sekitar 3.084,68 hektare yang rusak. Kondisi kerusakannya pun terbilang serius karena rata-rata gundul. Grafis MangroveKepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo, Ir. Sutrisno, Ap. M,si kepada Gorontalo Post mengatakan, kerusakan mangrove tentunya sangat membahayakan ekosistem sumber daya perikanan yang ada. "Jelas ini harus dihentikan, kita harus selamatkan mangrove untuk ekosistem sumber daya perikanan," terang Sutrisno, kemarin. Data kerusakan mangrove yang menyebutkan, kerusakan terparah ada di kabupaten Pohuwato, yakni mencapai 1.836,75 hektare hutan mangrov yang rusak. Rata-rata kerusakan mangrove karena disengaja, sebab dialihfungsikan menjadi tambak oleh sejumlah warga. "Lebih jelasnya tentang kerusakan itu bagian kehutanan. Kalau dimanfaatkan untuk tambak, saya kira manfaatnya yang lebih besar adalah untuk ekosistem laut dan sumber daya perikanan yang ada," tandas Sutrisno.
               


BEBAN PENCEMARAN LINGKUNGAN
Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Kegiatan manusia baik sengaja maupun tidak sengaja telah menimbulkan dampak terhadap ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove di Pesisir Kota Batam secara kasat mata telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh penyebab langsung maupun karena faktor-faktor pemicu lainnya.  Salah satu penyebab rusaknya ekosistem mangrove di Pesisir Kota Batam adalah pencemaran air laut terutama karena ulah manusia yang tanpa sadar lingkungan melakukan pembuangan limbah baik limbah cair maupun limbah padat. Jika kita melihat Pantai Nongsa, sampah-sampah tersebar pula di sepanjang pesisir pantai. Selain itu, yang tak kalah membuat miris adalah beragam proyek pembangunan, alih fungsi lahan, maupun penebangan kayu mangrove.

                Tumpahan minyak bumi dan hasil- hasil olahannya dengan kapal laut semakin meningkat. Kebocoran, tumpahan dan pembuangan bahan tersebut ke laut sudah sering terjadi. Di berbagai tempat, jalur- jalur angkutan ini berbatasan dengan kawasan mangrove (misalnya selat Malaka) dan kebocoran setra pembuangan minyak dengan sengaja telah menunjukkan dampak negative yang nyata terhadap mangrove. Efek kehadiran minyak di mangrove dapat dibedakan dalam dua kategori. Kategori pertama adalah efek laut yang akut, segera terlihat dan berkaitan dengan pelaburan oleh minyak pada permukaan tumbuhan ( pepagan, akar tunjang, akar napas ) yang mempunyai fungsi dalam pertukaran udara. Dalam kondisi pelaburan oleh minyak yang sangat kuat, tumbuhan mangrove dapat mati dalam waktu 72 jam. Pengguguran daun dan kematian pohon- pohon mangrove di tempat –tempat yang paling berpengaruh terjadi 4- 5 minggu. Kategori kedua berkaitan dengan peracunan kronik dalam jangka panjang tumbuhan mangrove dan fauna yang bersangkutan oleh komponen racun yang terkandung dalam minyak.
                Kegiatan pertanian, agro- industri, industry kimia dan rumah tangga menghasilkan limbah dalam jumlah yang beraneka dan kemudian dibuang ke sungai atau pantai. Limbah cair terlarut atau membentuk suspensi dalam air. Sebagian limbah cair ini berupa bahan anorganik yang juga terdapat di alam, tetapi kehadiran dalam jumlah berlebihan dalam lingkungan akuatik menyebabkan bahan itu tidak semuanya dapat didaur ulang secara alami. Dalam banyak kasus, pestisida dan antibiotic juga kerap kali digunakan, bahkan untuk pengolahan tambak tradisional.
                Penambangan mineral mineral, telah berkembang di kawasan pesisir. Penambangan dalam ekosistem mangrove mengakibatkan kerusakan total, sedangkan penambangan di daerah sekitarnya dapat menimbulkan berbagai macam efek yang merusak. Efek yang paling mencolok adalah pengendapan bahan-bahan yang dibawa air permukaan ked an dalam mangrove.  Pengendapan yang berlebihan akan merusak mangrove karena terjadinya penghambatan pertukaran air, hara dan udara dalam substrat dan air diatasnya. Bila proses pertukaran ini tidak berlangsung, kematian mangrove akan terjadi dalam waktu singkat. Terhentinyaa sebagian proses pertukaran menimbulkan tekanan pada mangrove, yang terlihat pada penurunan produktifitas dan kemampuan. Selanjutnya jaringan makanan yang berlandaskan pada adanya detritus di mangrove terganggu pula dan secara keseluruhan dapat menurunkan pula produktivitas ikan.

Rabu, 06 Maret 2013

Termometer Air Raksa (Hg)


Termometer pertama disebut termoskop atau alat pengukur panas sedangkan beberapa penemu menciptakan sebuah versi termoskop dalam bentuk yang sama dengan penemu dari italia, Santorio. Santorio merupakan orang pertama yang menetapkan skala urutan angka pada skala tersebut. Gslileo Galilei menciptakan termometer air yang belum sempurna pada 1953, dimana untuk pertama kalinya mengijinkan variasi suhu untuk diukur.  
Termometer adalah alat pengukur suhu yang menggunakan bahan yang berubah pada saat dipanaskan atau didinginkan dan menunjukkannya dalam bentuk angka. Penggunaan air raksa sebagai bahan utama thermometer karena koefisien muai air raksa terbilang konstan sehingga perubahan volume akibat kenaikan atau penurunan suhu.
Termometer Air Raksa terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan air raksa di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat sedemikian rupa sehingga hampa udara. Jika temperatur meningkat, Merkuri akan mengembang naik ke arah atas pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alat ukur sesuai dengan skala yang telah ditentukan. Adapun cara kerja secara umum adalah sbb:
1.     Sebelum terjadi perubahan suhu, volume air raksa berada pada kondisi awal.
2.     Perubahan suhu lingkungan di sekitar termometer direspon air raksa dengan perubahan volume.
3.    Volume merkuri akan mengembang jika suhu meningkat dan akan menyusut jika suhu menurun.
4.     Skala pada termometer akan menunjukkan nilai suhu sesuai keadaan lingkungan.
Termometer air raksa umumnya menggunakan skala suhu Celsius dan Fahrenhait. Celsius memakai dua titik penting pada skalanya: suhu saat es mencair dan suhu penguapan air. Es mencair pada tanda kalibrasi yang sama pada thermometer yaitu pada uap air yang mendidih. Saat dikeluarkan termometer dari uap air, ketinggian air raksa turun perlahan. Ini berhubungan dengan kecepatan pendinginan (dan pemuaian kaca tabung). Jadi pengukuran suhu celsius menggunakan suhu pencairan dan bukan suhu pembekuan.
Titik didih Celcius yaitu 0 °C (212 °F) dan titik beku pada 100 °C (32 °F). Tetapi peneliti lain -Frenchman Jean Pierre Cristin– mengusulkan versi kebalikan skala celsius dengan titik beku pada 0 °C (32 °F) dan titik didih pada 100 °C (212 °F). Dia menamakannya Centrigade.
Kelebihan dari menggunakan termometer air raksa, yaitu:
1.      Raksa mudah dilihat karena mengkilat (berwarna perak)
2.      Volume raksa berubah secara teratur (ketika terjadi perubahan suhu)
3.      Raksa tidak membasahi kaca ketika memuai atau menyusut
4.      Jangkauan suhu raksa cukup lebar dan sesuai untuk pekerjaan-pekerjaan laboratorium (-40oC sampai 350oC)
5.      Raksa terpanasi secara merata sehingga menunjukkan suhu dengan cepat dan tepat
Kerugian dari menggunakan termometer air raksa, daintaranya yaitu:
1.      Raksa harganya mahal
2.      Raksa tidak dapat digunakan untuk mengukur suhu yang sangat rendah (suhu kutub utara dan kutub selatan
3.      Raksa termasuk zat beracun sehingga termometer raksa berbahaya jika tabungnya pecah


Referensi :
Irmawati, Ariani, AMd. AK,S.Pd dan Sulistiowati, S.Si. 2005. Verifikasi Alat. SMAKBO : Bogor
Anonim, 2011. Prinsip Kerja Termometer Air Raksa. http://penjagahati-zone.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 7 Maret 2013 pukul 09.08 WIB


Minggu, 03 Maret 2013

kimia bahan hayati laut


1.      Keistimewaan dan sifat atom C
·         Dapat membentuk empat ikatan kovalen, baik dengan atom karbon lagi atau dengan atom lain. Hal ini dikarenakan atom C memiliki 4 elektron valensi pada kulit terluarnya, sehingga untuk mencapai susunan elektron yang stabil diperlukan 4 elektron lain dengan membentuk ikatan kovalen.
·         Dapat membentuk rantai panjang dengan atom-atom karbon lain, yang sering disebut IKATAN KARBON. Ikatan ini tidak dilmiliki oleh unsur-unsur lain. Ikatan antar atom C dapat berupa ikatan tunggal atau ikatan rangkap, tergantung dari orbital yang digunakan masing-masing atom tersebut.
·         Isomer. Merupakan senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi rumus strukturnya berbeda.
·         Gugus fungsi merupakan bagian molekul senyawa karbon yang mengalami reaksi kimia dan menentukan sifat fisik senyawa karbon tersebut.
·         Pada ikatan karbon baik ikatan tunggal (alkana) ataupun ikatan rangkap (alkena), semakin panjang rantai atom C maka akan semakin tinggi titik cair, titik didih dan massa jenisnya. Serta sifatnya yang nonpolar menyebabkan sulit larut dalam air, sehingga dalam proses ekstraksi diperlukan pelarut nonpolar seperti alkohol.
Teknik ekstraksi unsur karbon dapat dibuat dengan mereaksikan coke dengan silica SiO2 pada suhu 2500oC, karbon aktif dibuat dengan kulit singkong dan tempurung kelapa dengan proses aktivasi dan karbonisasi.
2.      Metabolit primer dan metabolit sekunder beserta fungsinya
·         Metabolit primer, adalah senyawa hasil metabolisme yang harus ada pada makhluk hidup. Fungsi dari metabolit primer biasanya digunakan untuk pertumbuhan, mempertahankan hidup, respirasi dan lain sebagainya. Beberapa contoh proses metabolisme primer adalah :
a.       degradasi senyawa karbohidrat dan gula, biasanya terjadi melalui jalur glikolisis dan siklus Krebs yang menghasilkan energi melalui reaksi oksidasai
b.      degradasi lemak melalui reaksi β-oksidasi yang juga menghasilkan energi
c.       optimasi pembentukan energi melalui proses oksidasi fosforilasi pada organisme aerobik
·         Metabolit sekunder, merupakan zat-zat atau senyawa hasil metabolisme yang tidak selalu ada pada makhluk hidup, biasanya dihasilkan oleh tumbuhan. Sampai dengan saat ini telah diidentifikasi lebih dari 100.000 senyawa metabolit sekunder yang dapat digolongkan ke dalam :
a.       Senyawa tanpa atom nitrogen dalam strukturnya (seperti golongan terpen, poliketid, saponin, poliasetilen, dll)
b.      Senyawa mengandung nitrogen (golongan alkaloid, amina, glikosida sianogenik, asam amino nonprotein, protein/enzim tertentu, dll)
Meskipun metabolit sekunder telah banyak digunakan sejak ribuan tahun yang lalu, seperti contohnya sebagai pewarna makanan dan kosmetik, penyedap makanan, pengharum, stimulan, halusinogen, insektisid, racun dan obat-obatan, akan tetapi fungsimnya di dalam organisme penghasilnya tidak jelas dan masih diperdebatkan.

3.      Cara memperoleh metabolit sekunder
Metabolit sekunder didapatkan dari proses metabolisme primer (Dewick, 1999). Untuk memperoleh metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan dapat dilakukan proses ekstraksi dengan menggunakan metanol, dimana metanol ini dapat melarutkan secara umum kandungan metabolit sekunder dengan berbagai kepolarannya. Pada preparasinya ekstrak tersebut difraksinasi lagi ke kelompok polar dengan pelarut air dan kelompok non polar  untuk metabolit yang terlarut pada fraksi kloroform. Proses fraksionasi dapat menggunakan metode kromatografi, baik KLT ataupun Kromatografi kolom. Proses ini dimaksudkan untuk memisahkan senyawa dari pelarut. Berikut gambaran mengenai pembentukan metabolit sekunder :

4.      Perbedaan teknik ekstraksi metabolit primer dan sekunder pada prokariot dan eukaryote
·         Ekstraksi eukaryote, dilakukan melalui proses penghancuran terlebih dahulu secara kimiawi yaitu dengan menggunakan EDTA (ethylenediamine tetraacetic). EDTA berfungsi sebagai perusak sel dengan cara mengikat ion magnesium (ion ini berfungsi untuk mempertahankan integritas sel maupun mempertahankan aktivitas enzim nuclease yang merusak asam nukleat).
                 

Referensi :
http://yolanisyaputri.blogspot.com/2012/01/identifikasi-metabolit-sekunder.html

Minggu, 06 Januari 2013

ER Mapper


ER Mapper merupakan salah satu software (perangkat lunak) yang digunakan untuk mengolah data citra. Beberapa perangkat lunak serupa yang juga memiliki fungsi yang sama antara lain ERDAS Imagine, PCL, dan lain-lain. Masing-masing software memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. ER Mapper sendiri dikeluarkan oleh Earth Resource Mapping, yang merupakan salah satu vendor piranti pemrosesan citra yang berpusat di Australia dengan berbagai cabang utama dan cabang pembantudi beberapa negara. Meyngingat software ini mudah dipelajari dan proses penyimpanan data yang lebih cepat dan sederhana dibandingkan softwae lain, ER Mapper lebih banyak dipilih dan diminati pengolah citra satelit. Secara umum ada dua tipe tombol operasi pada ER Mapper, yaitu tombol menu pulldown dan toolbar. Sebagian besar perintah operasional telah terfasilitasi dalam menu pulldown, namun dalam kasus-kasus tertentu, menu toolbar sangat efisien dan reflatif lebih mudah dihgunakan.  

Penggabungan Citra
Penggabungan citra atau juga sering dikenal dengan Image fusion adalah suatu proses penggabungan informasi menarik dalam dua atau lebih gambar menjadi satu gambar yang bertujuan untuk mengkombinasikan informasi spasial yang lebih tinggi dalam satu band dengan informasi spectral yang lebih tinggi pada dataset yang lain. Penggabungan citra dilakukan untuk menajamkan resolusi sebuah gambar. Secara sederhana penggabungan citra secara definisi ada 3, yaitu:
1.      Fusion adalah penggabungan antara dua citra atau lebih yang dijadikan menjadi suatu citra yang baru dengan menggunakan beberapa algoritma tertentu,
2.      Merging adalah penggabungan dengan pemahaman bahwa dua citra atau lebih yang dijadikan satu dengan teknik penajaman dan penormalan citra tertentu,
3.      Combination adalah penggabungan beberapa band dalam suatu citra multi untuk suatu tujuan tertentu.
Metode penggabungan standar fusi citra didasarkan pada Red-Green-Blue (RGB) untuk transformasi Intensity-Hue-Saturation (IHS). Langkah-langkah yang biasa terlibat dalam fusi citra satelit adalah sebagai berikut:
a.       Mengubah ukuran gambar miultispektral resolusi rendah dengan ukuran yang sama seperti gambar pankromatik
b.      Mengubah band R, G dan B dari citra multispektral menjadi komponen-komponen HIS
c.       Memodifikasi gambar pankromatik sehubungan dengan citra multispektral. Hal ini biasanya dilakukan oleh pencocokan histrogram dari citra pankromatik dengan komponen intensitas dari citra pankromatik dengan komponen intensitas dari citra multispektral sebagai referensi
d.      Mengganti komponen intensitas dengan citra pankromatik dan melakukan transformasi invers untuk mendapatkan gambar multispektral resolusi tinggi.

Koreksi Geometri
            Sebelum data citra dapat diolah, sistem proyeksi/koordinat peta harus didefinisikan dan disesuaikan terlebih dahulu dengan areal kerja atau dengan data spasial yang telah ada sebelumnya. Dalam koreksi geometrik, istilah rektifikasi digunakan bila data citra dikoreksi dengan peta dasar sebagai acuannya. Sedangkan untuk data citra yang dikoreksi dengan acuan citra lain yang telah terkoreksi digunakan istilah registrasi.
            Koreksi geometrik merupakan tahapan agar data citra dapat diproyeksikan sesuai dengan sistem koordinat yang digunakan. Acuan dari koreksi geometrik ini dapat berupa peta dasar ataupun data citra sebelumnya yang telah terkoreksi. Secara umum, dalam ER Mapper sendiri terdapat empat tipe pengoperasian rektifikasi :
·         Image to map rectification,
·         Image to image retrification,
·         Map to map transformation, yaitu mentransformasikan data yang terkoreksi menjadi datum/map projection yang baru,
·         Image rotation, memutar citra menjadi beberapa derajat.
Koreksi geometri dilakukan dengan menggunakan acuan titik kontrol yang dikenal dengan Ground Control Point (GCP). Titik kontrol yang ditentukan merupakan titik-titik dari objek yang bersifat permanen dan dapat diidentifikasi di atas citra dan peta dasar. GCP dapat berupa persilangan jalan, percabangan sungai, persilangan antara jalan dengan sungai (jembatan) atau objek lain.
            Langkah awal Koreksi geometrik adalah menentukan metode yang akan digunakan untuk melakukan koreksi. Metoda yang akan digunakan tergantung pada jenis data (Resolusi Spasial), jenis kesalahan geometris (skew, yaw, Roll, pitch). Menurut wizard ER Mapper6.4, terdapat 7 Geocoding Type, yaitu:
a.       Tryangulation biasanya digunakan untuk data yang mengalami banyak pergeseran/distorsi skew dan yaw. Juga digunakan untuk data yang tidak sama ukuran pixelnya pada satu set data.
b.      Polynomial biasanya digunakan untuk data citra yang mengalami pergeseran linear, ukuran pixel sama dalam satu set, untuk data resolusi spasial tinggi maupun rendah.
c.       Orthorectify using ground control point digunakan selain untuk mengoreksi citra secara geometris, juga mengoreksi citra berdasarkan ketinggian geografisnya. Jika tidak menggunakn orthorectify, maka puncak gunung akan bergeser letaknya dari posisi sebenarnya, walupun sudah dikoreksi secara geometris.
d.      Orthorectify using exterior orientation
e.       Map to map projection
f.        Known Point Registration
g.      Rotation digunakan untuk mengoreksi citra karena terjadi pergeseran citra yang terlihat berputar, baik searah jarum jam maupun berlawanan jarum jam.
           
Klasifikasi Citra
            Klasifikasi citra merupakan tahap interpretasi informasi pada citra yang dibuat berdasarkan klas kategori tertentu. Metode klasifikasi secara umum terbagi menjadi dua macam, diantaranya yaitu:
·         Klasifikasi tidak terbimbing (Unsupervised classification), merupakan metode klasifikasi yang memberikan keleluasaan bagi komputer untuk mengklasifikasikan citra secara mandiri. Jenis metode ini digunakan bila kualitas citra sangat tinggi dengan distorsi atmosferik dan tutupan awan yang rendah. Namun, dalam banyak kasus, terlepas dari kondisi citra yang bersangkutan, metode ini banyak digunakan untuk memberikan gambaran kasar/informasi awal.
·         Klasifikasi terbimbing (Supervised classification), merupakan metode klasifikasi yang memberikan bimbingan kepada komputer dalam proses klasifikasinya. Intervensi pengguna dimulai sejak penentuan training area hingga tahap pengklasterannya. Klasifikasi terbimbing dalam hal ini mensyaratkan kemampuan pengguna dalan penguasaan informasi lahan terhadap areal kajian.

Interpretasi Citra
Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat objek yang tampak pada citra. Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang tampak dari suatu objek yang sedang diamati sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau. Menurut Lillesand dan Kiefer (1994) dan juga Sutanto (1986) terdapat 8 unsur interpretasi yang digunakan secara konvergen untuk dapat mengenali suatu objek yang ada pada citra. Kedelapan unsur tersebut adalah warna/rona, bentuk, ukuran, bayangan, tekstur, pola, situs dan asosiasi. Diantara ke delapan unsur tersebut, warna/rona merupakan hal yang paling dominan dan langsung mempengaruhi pengguna citra dalam memulai interpretasi.
Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya. Interpretasi citra dapat dilakukan secara manual atau visual, dan dapat pula secara digital. Interpretasi citra secara visual sering di sebut dengan interpretasi fotografik, sekalipun citra yang di gunakan bukan citra foto, melainkan citra non foto yang telah tercetak (hard copy). Sebutan interpretasi fotografik sering di berikan pada Interpretasi visual citra non foto, karena banyak produk tercetak citra non foto di masa lalu (bahkan sampai sekarang) di wujudkan dalam bentuk film ataupun citra tercetak di atas kertas foto, dengan proses reproduksi fotografik. Hal ini dapat dilakukan karena proses pencetakan oleh komputer pengolahan citra non foto dilakukan dengan printer khusus yang disebut film writer, dan hasil cetakanya menyerupai slide (diapositif) berukuran besar (lebih kurang hingga ukuran karto). Istilah Interpretasi fotografik juga diberikan pada berbagai kegiatan interpretasi visual citra-citra non foto, karena prinsip-prinsip interpretasi yang digunakan tidak jauh berbeda dari prinsip-prinsip interpretasi foto udara.
Dalam menginterpretasikan citra dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:
·         Deteksi yaitu pengenalan objek yang mempunyai karakteristik tertentu oleh sensor
·         Identifikasi yaitu mencirikan objek dengan menggunakan data rujukan
·         Analisis yaitu rekaman data pengindraan jauh tersebut berupa data digital atau data numerik
Pada proses pelaksanaan interpretasi citra, pengenalan objek merupakan bagian yang sangat penting, karena tanpa pengenalan identitas dan jenis objek, maka objek yang tergambar pada citra tidak mungkin dianalisis. Prinsip pengenalan objek pada citra didasarkan pada penyelidikan karakteristiknya pada citra. Karakteristik yang tergambar pada citra dan digunakan untuk mengenali objek disebut unsur interpretasi citra.